JAWA BARAT — Seorang pengguna Reddit dengan nama akun friendofmany mengunggah foto kuda yang ia jepret, lalu mencoba menggeser titik fokus menggunakan Spatial Reframing. Hasilnya, AI justru memunculkan sosok pria asing yang sama sekali tidak dikenal oleh pemilik foto. Pengguna tersebut menyebutnya sebagai "full rando" atau orang yang benar-benar acak.
Dalam penjelasannya, foto asli hanya menampilkan "sedikit bagian topi yang mengintip di balik tubuh kuda". Ketika sudut pandang digeser, potongan topi itu berkembang menjadi manusia utuh yang tidak pernah ada di lokasi kejadian.
Spatial Reframing adalah fitur anyar di iOS 27 yang memungkinkan pengguna mengubah sudut pengambilan gambar pada foto yang sudah jadi. Caranya cukup dengan menggeser foto menggunakan jari, dan AI akan menyesuaikan perspektif secara otomatis.
Apple mengklaim fitur ini membantu pengguna mendapatkan komposisi yang lebih memuaskan tanpa harus kembali ke lokasi dan menjepret ulang momen yang sama. Namun, proses ini mengharuskan AI mengisi bagian gambar yang kosong atau tidak terekam kamera.
Ketika pengguna mengubah sudut pandang, AI harus "berimajinasi" tentang apa yang seharusnya terlihat di area yang sebelumnya tidak tertangkap lensa. Di sinilah masalah muncul.
Kasus phantom horseman ini bukan satu-satunya. Sejumlah pengguna melaporkan pengalaman serupa ketika mengedit foto bangunan atau jalanan ramai menggunakan Spatial Reframing.
AI kerap menambahkan elemen arsitektur yang tidak ada di dunia nyata, seperti jendela atau lisplang pada gedung yang sebenarnya polos. Hal ini terjadi karena AI dipaksa mengisi ruang kosong dengan sesuatu, meski hasilnya tidak sesuai kenyataan.
Yang membuat frustrasi, pengguna yang berada langsung di lokasi bisa melihat bahwa hasil editan AI sama sekali tidak mencerminkan kondisi asli. Foto yang dihasilkan terlihat meyakinkan secara visual, tetapi faktanya salah.
Fitur seperti Spatial Reframing semakin umum di smartphone premium, termasuk iPhone terbaru yang beredar di pasar Indonesia. Pengguna perlu memahami bahwa AI editing bukan sekadar alat kreatif, tetapi juga bisa mendistorsi realitas.
Untuk keperluan media sosial atau konten hiburan, halusinasi AI mungkin tidak masalah besar. Namun untuk dokumentasi jurnalistik, bukti hukum, atau arsip pribadi yang akurat, hasil editan AI perlu dicermati dengan hati-hati.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi AI generatif masih dalam tahap pengembangan. Apple sendiri tampaknya masih perlu menyempurnakan Spatial Reframing sebelum fitur ini benar-benar bisa diandalkan tanpa risiko halusinasi visual.
Bagi pengguna yang sering memotret momen penting, sebaiknya simpan foto asli sebelum melakukan edit AI apa pun. Dengan begitu, jika hasil editan bermasalah, versi original tetap tersedia sebagai referensi.