JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memperkuat posisinya dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan nasional lewat keikutsertaan dalam National AI Data Center & Electrification Strategic Workshop. Kegiatan yang diselenggarakan Danantara Indonesia ini mempertemukan pemangku kepentingan lintas BUMN, regulator, dan pelaku industri.
Agenda hari pertama workshop difokuskan pada validasi kebutuhan AI nasional serta penyelarasan proyeksi demand dengan kesiapan data center dan pasokan listrik. Telkom hadir melalui PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC), unit yang menangani bisnis data center perseroan.
Workshop ini dihadiri perwakilan BUMN lintas sektor, mulai dari jasa keuangan, energi, telekomunikasi, transportasi, kesehatan, hingga manufaktur. Turut hadir Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia Ricardo Irwan Rei dan Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah.
Dari sisi korporasi, hadir Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji, Direktur Utama NeutraDC Rakhmad Tunggal Afifuddin, serta Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero) M. Fahrur Rozy.
Dalam kapasitasnya sebagai penyedia infrastruktur digital, Seno Soemadji memaparkan peran Telkom dalam mendukung kapabilitas sovereign cloud, sovereign AI, dan sovereign cybersecurity bagi sektor pemerintahan dan BUMN.
"Data Center Telkom menjadi fondasi bagi Indonesia dalam membangun ekosistem Sovereign AI yang berdaulat dan berkelanjutan," ujar Seno.
Pernyataan itu menegaskan posisi TelkomGroup sebagai penyedia infrastruktur yang menyiapkan fondasi teknis sebelum ekosistem AI nasional beroperasi penuh.
Agenda hari pertama menghasilkan pemetaan prioritas use case AI di lingkungan BUMN. Peserta juga menyusun proyeksi kebutuhan compute dan kapasitas IT dalam skenario Low-Base-High.
Pemetaan terhadap lebih dari 70 responden BUMN menunjukkan kebutuhan data center yang signifikan. Kontribusi terbesar berasal dari sektor perbankan, disusul sektor mobilitas dan kesejahteraan.
Dari sisi geografis, permintaan terkonsentrasi di wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali), kemudian Batam dan Indonesia Timur. Tren ini diproyeksikan terus meningkat hingga 2030 seiring meluasnya pemanfaatan AI di lingkungan BUMN.
Pemetaan ini menjadi dasar untuk mempertemukan proyeksi demand dengan rencana pengembangan data center NeutraDC dan kesiapan pasokan daya PLN. Validasi kelayakan investasi baru bisa masuk tahap berikutnya setelah kedua sisi itu selaras.
Workshop yang mengusung tema "Building Indonesia's Sovereign AI Infrastructure: Validating National Demand, Data Center & Power Readiness" itu menempatkan kesiapan listrik sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan data center AI. Pasokan daya menjadi penentu apakah proyeksi permintaan yang terkumpul dari BUMN bisa direalisasikan tepat waktu.
Bagi TelkomGroup, partisipasi dalam forum ini mempertegas peran NeutraDC sebagai penyedia kapasitas data center yang akan menopang kebutuhan compute BUMN hingga 2030.