BANDUNG — Perdebatan soal salad sebagai makanan "asing" sebenarnya bisa dijawab dengan satu piring lalapan di warung makan Sunda. Sayuran mentah yang disantap bersama sambal dan lauk itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari jauh sebelum kafe-kafe urban menawarkan bowl salad dengan harga puluhan ribu rupiah.
Lalapan, urap, pecel, dan karedok menempatkan sayuran sebagai bagian inti menu, bukan sekadar pelengkap. Karedok bahkan menyajikan sayuran mentah dengan bumbu kacang, sebuah pendekatan yang secara teknis mirip dengan salad dressing berbahan dasar kacang.
Konsep menyantap sayuran segar bukan sesuatu yang diimpor dari budaya Barat. Lalapan karedok urap adalah bukti bahwa budaya makan Nusantara sejak lama memiliki ruang bagi makanan kaya sayuran.
Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia memiliki keragaman sayuran dan buah yang sangat besar. Namun, kebiasaan mengonsumsinya masih perlu ditingkatkan.
WHO menyebut konsumsi buah dan sayuran dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan beberapa jenis kanker. Sayuran dan buah menyediakan vitamin, mineral, serat, serta senyawa bioaktif seperti flavonoid dan antioksidan.
WHO merekomendasikan asupan serat alami minimal 25 gram per hari. Kandungan serat membantu mendukung fungsi pencernaan dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama.
Kemenkes menganjurkan konsumsi sayur dan buah sekitar 400–600 gram per orang per hari untuk remaja dan dewasa. Porsi sayuran idealnya sekitar dua pertiga dari jumlah tersebut.
Karena itu, salad dapat menjadi pelengkap makanan utama, terutama bila dilengkapi sumber protein dan karbohidrat. Tanpa protein dan karbohidrat, salad hanya jadi camilan yang tidak mengenyangkan.
Salad tidak otomatis sehat hanya karena menggunakan sayuran. Dressing berbahan tinggi gula, garam, atau lemak dapat meningkatkan kalori dan natrium secara signifikan.
WHO menganjurkan pembatasan gula bebas, lemak tertentu, serta garam. Saus yang terlalu manis atau asin bisa menghapus manfaat sayuran yang dikonsumsi.
Adaptasi rasa melalui sambal, bumbu kacang, atau dressing berbahan lokal menjadi jembatan antara konsep salad modern dan selera Nusantara. Selada, tomat, wortel, mentimun, jagung, alpukat, atau paprika dapat dikombinasikan dengan kacang-kacangan, tempe, tahu, dan sayuran lokal.
Salad bukan sekadar tren, melainkan cara memperbanyak konsumsi sayuran. Dan Indonesia tidak perlu memulai dari nol—lalapan sudah mengajarkannya sejak lama.