BANDUNG — Respons Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terhadap polemik data center AI di Jatiluhur berbalik menjadi sasaran kritik. Unggahan infografis di akun Instagram pribadinya dinilai tidak menyentuh persoalan inti yang dikhawatirkan warga, yakni pasokan air dan listrik untuk operasional fasilitas komputasi AI bernilai Rp 3,5 triliun tersebut.
Infografis yang mengutip data GoodStats itu menampilkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah data center terbanyak ketiga di Indonesia. Total 19 fasilitas tercatat tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, mulai Bekasi, Bandung, Bogor, Cirebon, sampai Purwakarta.
Bagi sebagian warganet, banyaknya data center eksisting bukan pembanding yang setara. Setiap fasilitas punya skala, kebutuhan energi, dan sistem pendinginan yang berbeda-beda.
Perbedaan teknologi inilah yang disorot akun @mardayanti_maru. Ia menyebut data center konvensional di kawasan industri Cikarang atau Jakarta masih memakai pendingin udara biasa (air cooling).
"Sedangkan proyek bernilai Rp3,5 triliun di Jatiluhur dirancang khusus untuk operasional beban berat AI," tulisnya di kolom komentar.
Persoalan air bersih menjadi perhatian paling menonjol. Warga khawatir kebutuhan air untuk operasional fasilitas AI akan menambah tekanan pada ketersediaan air di kawasan yang selama ini mengandalkan Waduk Jatiluhur.
Kekhawatiran itu disampaikan akun @andaryyherdian. Ia mengingatkan bahwa sebelum proyek AI berdiri, warga setempat masih menghadapi persoalan distribusi air bersih harian.
"Dicegah ya pak, blm ada center AI saja PDAM sering mati bergilir setiap hari. Tanpa AI kami bisa tetap hidup," tulisnya.
Komentar tersebut menggambarkan keinginan warga agar kebutuhan dasar menjadi pertimbangan utama sebelum pemerintah memberi ruang bagi investasi berskala besar.
Sindiran juga datang dari akun @sayyalif. Ia menilai unggahan infografis lebih menonjolkan pencitraan ketimbang menjawab pertanyaan warga soal skala proyek Jatiluhur.
"NPD pengen keliatan banget, Data Center di yg lain itu skalanya kecil beda dengan yg mau di buat, Jatiluhur duh, nya sok we atuh pa bangun ari kekeuh mah tong kagok masalah rakyat sangsara mah da atos tikamari ge," tulisnya.
Perdebatan di kolom komentar memperlihatkan bahwa persoalan data center AI di Jatiluhur tidak sekadar soal investasi dan penambahan infrastruktur digital. Ada pertanyaan mendasar soal daya dukung lingkungan dan jaminan air bagi masyarakat sekitar.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun dituntut menjelaskan secara terbuka sejumlah hal. Mulai dari kebutuhan air dan listrik proyek, teknologi pendinginan yang dipakai, sumber pasokan air, hingga hasil kajian dampak lingkungannya.
Keberadaan 19 data center di Jawa Barat sebagaimana ditampilkan dalam infografis tidak serta-merta menjawab kekhawatiran warga terhadap fasilitas AI berskala besar di Jatiluhur. Di tengah ambisi menjadikan Jawa Barat sebagai tujuan investasi teknologi, kepastian bahwa kebutuhan dasar masyarakat tidak terganggu masih menunggu jawaban pemerintah.