BANDUNG — Komisi IV DPRD Jawa Barat menilai gerakan mahasiswa untuk mengedukasi warga soal pengelolaan sampah perlu diperluas jangkauannya. Selama ini program serupa baru berjalan di kawasan Bandung Raya, dengan pilot project di Arcamanik yang melibatkan mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba).
DPRD mendorong tiap kota dan kabupaten di Jawa Barat melibatkan perguruan tinggi setempat agar edukasi tidak menumpuk di satu wilayah saja. "Kita mendukung apa yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan melibatkan mahasiswa. Seperti halnya untuk pilot project di Arcamanik dengan Unisba, itu cukup baik dan perlu diperkuat dengan menambah jumlah mahasiswa yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengedukasi program 3R," ujar Tedy Rusmawan, Sabtu (3/10/2026).
Tedy menyebut edukasi masif soal 3R atau reduce, reuse, recycle masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas di Jawa Barat. Karena itu, ia berharap gerakan yang melibatkan mahasiswa tidak berhenti di Bandung Raya.
"Dan besar harapan sebetulnya ini menjadi gerakan se-Jawa Barat. Di tiap kota dan kabupaten di Jawa Barat juga ada perguruan tingginya. Nah, ini kita dorong justru tidak hanya untuk Bandung saja, tetapi se-Jawa Barat dengan melibatkan seluruh perguruan tinggi di Jawa Barat untuk turun bersama-sama dengan pemerintah memberikan edukasi," katanya.
Menurut Tedy, kegiatan edukasi bisa diintegrasikan dengan program kuliah kerja nyata (KKN) maupun kuliah lapangan. Skema itu dinilai lebih efektif karena mahasiswa turun langsung ke masyarakat, bukan sekadar memberi penyuluhan sesaat.
"Termasuk juga dengan mengoptimalkan KKN maupun kuliah lapangan. Itu lebih diarahkan untuk salah satu yang menjadi PR di Jawa Barat, yaitu masih dibutuhkannya edukasi yang masif terkait dengan 3R pengelolaan sampah," ujarnya.
Sejumlah daerah di Jawa Barat sudah punya gerakan pengelolaan sampah sendiri. Kota Bandung mengenal Kang Pisman, singkatan dari Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan. Kota Cimahi punya Ompimpa, atau Orang Cimahi Memilah Sampah.
Gerakan-gerakan itu bisa jadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk memperkuat edukasi di tingkat kelurahan dan RW. Tedy menilai materi yang disampaikan mahasiswa perlu punya standar jelas agar pesan ke warga seragam dan tidak simpang siur.
"Kita support dan juga kita dorong agar ada kejelasan terkait dengan materi yang disampaikan sehingga tepat, distandarisasi, dan juga tentunya didampingi oleh dosen-dosennya. Jadi, tidak hanya sekadar mahasiswa," katanya.
Selain mahasiswa dan perguruan tinggi, Tedy mendorong aparatur sipil negara (ASN) di Jawa Barat terlibat dalam edukasi pengelolaan sampah. Pelibatan ASN dinilai bisa mempercepat penyebaran pemahaman 3R hingga ke tingkat RT dan RW.
"Plus juga pelibatan dari seluruh ASN di Jawa Barat ini untuk terlibat bersama-sama melakukan edukasi ke masyarakat," ucapnya.
DPRD Jawa Barat belum merinci berapa jumlah mahasiswa yang dibutuhkan maupun daerah mana yang akan jadi prioritas perluasan gerakan. Namun arah kebijakannya jelas: edukasi sampah 3R tidak lagi hanya urusan Bandung Raya, melainkan seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat.