BANDUNG — Gejolak di tubuh Partai Golkar Jawa Barat mencuat ke permukaan. Sejumlah kader tingkat akar rumput disebut berencana meninggalkan partai dan bergabung dengan partai lain, baik yang memiliki wakil di parlemen maupun nonparlemen.
Pemicu utamanya adalah mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Daniel Mutaqien Syafiuddin yang baru menjabat. Kebijakan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang dinilai menjadi kepanjangan tangan Presiden ke-7 Joko Widodo turut memperkuat kekhawatiran di tingkat bawah.
Kekhawatiran itu menyangkut potensi Partai Golkar ditinggalkan pemilih pada Pemilihan Legislatif 2029.
Salah satu sumber mediakarya.id menyebut, baik Ketua DPD Golkar Jabar maupun Ketua Umum saat ini dinilai tidak merepresentasikan keinginan kader yang mengusung semangat kekaryaan.
"Bahkan Golkar saat ini diduga dikuasai oleh kelompok organisasi tertentu. Anehnya, para senior Golkar justru hanya cari aman. Sementara kelompok-kelompok itu terus bergerak melakukan manuver dan hanya mencari kekuasaan," kata sumber tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, konfirmasi kepada pengurus DPD Partai Golkar Jawa Barat dan DPP Partai Golkar masih diupayakan.
Pakar komunikasi politik dan kebijakan publik Dr. Adi Suparto menilai dinamika di akar rumput perlu dikelola dengan bijak. Menurutnya, sikap responsif dari elit partai menentukan soliditas internal dan kepercayaan publik.
"Elit Golkar perlu bijak dan responsif melihat aspirasi akar rumput. Ini penting untuk soliditas dan menjaga kepercayaan publik," ujar Adi Suparto.
Adi menyarankan sejumlah langkah strategis. Pertama, menyediakan saluran komunikasi yang terbuka dan jujur antara pengurus pusat dan kader di daerah untuk mendengar keluhan serta aspirasi secara langsung.
Kedua, mempertimbangkan masukan dari tingkat bawah dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk penentuan calon ketua DPD berdasarkan rekam jejak dan prestasi, bukan semata kedekatan elit.
Ketiga, menghindari pernyataan publik yang saling bertolak belakang atau memicu polarisasi di dalam tubuh partai.
"Energi organisasi harus diarahkan untuk memperkuat struktur partai hingga tingkat desa atau kelurahan demi menghadapi kontestasi politik 2029, bukan dihabiskan untuk konflik internal," tegasnya.
Golkar Jawa Barat merupakan salah satu basis suara terbesar partai berlambang beringin itu. Gejolak pasca pergantian ketua DPD berpotensi menggerus mesin partai di tingkat desa dan kelurahan jika tidak segera ditangani.
Wacana eksodus ratusan kader menjadi sinyal bahwa persoalan internal tidak lagi terbatas di lingkaran elite. Adi menyebut penguatan struktur hingga tingkat terbawah menjadi kunci untuk menjaga daya tahan partai pada kontestasi mendatang.