JAWA BARAT — Rupiah menembus Rp18.021 per dolar AS pada perdagangan Jumat (16/10/2026), terlemah setelah MSCI membuka peluang menurunkan status pasar saham Indonesia. Bank Indonesia bergerak cepat melakukan intervensi di pasar valas dan surat berharga untuk menahan pelemahan lebih dalam.
Paragraf pembuka: Posisi rupiah dibuka melemah 83 poin atau 0,46 persen ke Rp18.021 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp17.938. Tekanan datang bersamaan dari dalam dan luar negeri: kekhawatiran status pasar saham Indonesia, penguatan dolar AS, dan inflasi Amerika Serikat yang kembali memanas. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai salah satu pemicu utama.
MSCI mengusulkan status Indonesia diturunkan dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market, kategori tersendiri di luar kelompok pasar berkembang. Usulan itu muncul setelah MSCI menilai perbaikan pasar saham Indonesia belum cukup maju dan konsisten.
Pelaku pasar masih mengkhawatirkan sejumlah persoalan, termasuk dugaan perdagangan saham yang terkoordinasi serta minimnya bukti penegakan aturan yang berarti. "MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market. Masukan dari pelaku pasar akan diterima hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan sebelum 30 Juni 2027," kata Josua, dikutip dari Antara, Jumat (16/10/2026).
Guncangan tidak berhenti di pasar valas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 469,86 poin atau 8,01 persen ke posisi 5.393,92 pada Jumat pagi, memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt). Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan ikut merosot 8,33 persen ke posisi 540,95.
Penurunan tajam itu memperlihatkan betapa cepat sentimen MSCI merambat ke seluruh pasar keuangan domestik, bukan hanya ke nilai tukar.
Bank Indonesia memastikan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai kondisi fundamental ekonomi. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan intervensi dilakukan lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Langkah itu diambil ketika investor global cenderung menghindari aset berisiko atau risk-off, yang mendorong penguatan dolar AS dan menekan pasar keuangan Indonesia. Erwin memperkirakan arus keluar dana asing dari investasi portofolio domestik masih berlanjut.
Meski begitu, BI mencatat pelemahan rupiah sepanjang kuartal berjalan masih terbatas 0,28 persen, relatif sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan. Cadangan devisa Indonesia tercatat 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026. "Bank Indonesia juga menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang, serta terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya," ujar Erwin dikutip dari Antara.
Tekanan dari luar negeri datang lewat inflasi konsumen AS September 2026 yang naik 3,7 persen secara tahunan, dari 3,4 persen pada Agustus. Angka itu melampaui perkiraan pasar 3,6 persen, sementara inflasi inti naik ke 2,6 persen dari 2,4 persen.
Kenaikan terutama dipicu biaya tempat tinggal dan kendaraan, sedangkan inflasi umum terdorong harga energi. Tekanan di tingkat produsen lebih tinggi lagi: indeks harga produsen AS naik 1,3 persen secara bulanan dan 6,3 persen secara tahunan. "Perkembangan tersebut menegaskan masih kuatnya tekanan inflasi baik di sisi produsen maupun konsumen di AS," kata Josua.
Sejumlah pejabat Federal Reserve memberi sinyal keputusan suku bunga masih menunggu data tambahan. Investor menantikan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh sebelum masa pembatasan komunikasi pejabat bank sentral dimulai Sabtu (17/10/2026). Josua memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.925 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan Jumat.
Penutup: Bagi pelaku usaha dan investor, kombinasi ancaman downgrade MSCI dan inflasi AS yang membandel membuat ruang gerak rupiah masih sempit dalam jangka pendek. Posisi cadangan devisa Rp146,3 miliar dolar AS menjadi bantalan utama BI untuk menahan gejolak hingga keputusan final MSCI keluar paling lambat 30 Juni 2027.