JAWA BARAT — PT Waskita Karya (Persero) Tbk mencatat realisasi pekerjaan Jembatan Pulau Laut di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, sudah menembus 18,4 persen atau lebih cepat dari rencana awal 12 persen. Proyek senilai Rp 1,09 triliun itu digadang menjadi penghubung utama Pulau Laut dengan daratan Kalimantan yang selama ini bergantung pada penyeberangan berkapasitas terbatas.
Jembatan sepanjang 1.047 meter itu dikerjakan oleh Kerja Sama Operasi (KSO) PP-Waskita-BBA dan kini melibatkan sekitar 330 pekerja di lapangan. Corporate Secretary Waskita Karya Steven Subiantoro menyatakan perusahaan menempatkan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai syarat utama di setiap tahap konstruksi.
Percepatan progres menjadi sinyal penting bagi proyek yang sudah lama ditunggu warga pesisir Tanah Bumbu. Selama ini akses ke Pulau Laut mengandalkan angkutan penyeberangan yang kapasitasnya terbatas, sehingga arus barang dan orang kerap tertahan.
Steven menyebut ada lima manfaat utama yang diharapkan muncul dari kehadiran jembatan tersebut. Manfaat pertama adalah membuka keterbatasan aksesibilitas Pulau Laut, yang posisinya berhadapan langsung dengan Air Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, dengan mainland Pulau Kalimantan.
Kedua, jembatan memperbaiki efisiensi logistik penyeberangan yang sebelumnya hanya mampu menampung kendaraan dalam jumlah terbatas. Bagi pelaku usaha di kawasan Pantai Timur Kalsel, perubahan moda angkut ini berdampak langsung pada biaya distribusi.
"Kami meyakini, keberadaan Jembatan Pulau Laut Kabupaten Tanah Bumbu akan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Pantai Timur Kalimantan Selatan. Termasuk mendukung agenda nasional seperti hilirisasi industri serta pemerataan wilayah," tutur Steven dalam keterangan resmi, Rabu (14/10/2026).
Manfaat berikutnya menyangkut konektivitas kawasan ekonomi. Jembatan ini akan menghubungkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mekar Putih dan KEK Setangga dengan Kawasan Industri Batulicin, sehingga arus bahan baku dan hasil produksi tidak lagi terhambat jalur penyeberangan.
Dampak lanjutannya adalah terbukanya lapangan kerja baru, terutama bagi tenaga kerja lokal di sekitar Tanjung Serdang dan Batulicin. Sektor jasa, perdagangan, dan pengolahan diperkirakan ikut tumbuh seiring meningkatnya mobilitas orang dan barang.
Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin sebelumnya meninjau langsung lokasi konstruksi di Tanjung Serdang-Batulicin. Ia memastikan proyek strategis itu berjalan sesuai tahapan yang telah ditetapkan.
Steven menegaskan perusahaan berkomitmen merampungkan jembatan tepat waktu dan sesuai standar mutu. Menurut dia, upaya terbaik akan dikerahkan karena masyarakat sudah lama mengharapkan infrastruktur tersebut.
"Kami percaya, semakin banyak proyek konektivitas terbangun maka semakin cepat juga pemerataan kesejahteraan masyarakat di seluruh Indonesia bisa tercapai," jelasnya.
Waskita Karya berdiri pada 1961 sebagai BUMN dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode WSKT pada Desember 2012. Perusahaan kini berperan sebagai kontraktor sekaligus pengembang infrastruktur melalui anak usaha seperti PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Waskita Toll Road, PT Waskita Karya Realty, dan PT Waskita Karya Infrastruktur.
Bagi investor, capaian 18,4 persen di atas target awal menjadi indikator awal kemampuan Waskita menjaga jadwal proyek bernilai besar. Penyelesaian Jembatan Pulau Laut juga akan menguji seberapa cepat manfaat ekonominya terasa di kawasan Pantai Timur Kalimantan Selatan.