JAWA BARAT — Menurut Djoko Siswanto, penerapan AICD Halliburton di OSES berhasil mendorong kenaikan produksi. Pernyataan itu disampaikannya dalam keterangan tertulis, Senin (14/9).
"Teknologi AICD Halliburton berhasil diterapkan di OSES dan produksi naik sekitar 500 BOPD," kata Djoko.
Mengapa AICD Dipilih untuk Sumur Mature
AICD merupakan perangkat pengendali aliran yang dipasang dalam sistem penyelesaian sumur. Fungsinya mengatur aliran fluida dari reservoir agar produksi minyak dari zona produktif bisa dimaksimalkan.
Dengan pengelolaan aliran yang lebih optimal, sumur-sumur yang sudah memasuki fase mature masih menyimpan potensi tambahan produksi. PHE OSES membuktikan hal itu lewat penerapan AICD Equiflow di wilayah kerjanya.
Langkah ini menjadi salah satu cara mengubah teknologi menjadi nilai produksi. Sekaligus memaksimalkan recovery dari aset-aset migas yang sudah berumur.
Dorongan SKK Migas ke Kontraktor Migas
Keberhasilan di OSES memperlihatkan bahwa optimalisasi lapangan mature masih bisa memberi tambahan produksi, asalkan teknologi yang dipakai tepat. Strategi ini kian penting di tengah upaya pemerintah dan SKK Migas menaikkan produksi minyak nasional.
SKK Migas mendorong kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) melakukan berbagai inovasi, well intervention, dan optimalisasi sumur eksisting. Upaya itu menjadi bagian dari strategi menaikkan produksi migas nasional, di samping mengandalkan eksplorasi dan pengembangan lapangan baru.
Bagi PHE OSES, penerapan AICD Equiflow menunjukkan komitmen perusahaan mengoptimalkan nilai produksi melalui inovasi teknologi. Perusahaan berharap teknologi tersebut memberi hasil terbaik sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi aset yang dikelolanya.
Tambahan 500 BOPD memang bukan angka besar untuk skala nasional. Namun bagi lapangan yang sudah mature, capaian ini menunjukkan masih ada ruang produksi yang bisa digali — dan teknologi menjadi kuncinya.