Pemkot Bandung resmi mengoperasikan Angkutan Kota Listrik Bandung (Angklung) melayani rute Simpang Soetta Kiaracondong 2 hingga Pasar Baru ABC. Armada ini difungsikan sebagai kendaraan feeder resmi Koridor 1 Metro Jabar Trans (MJT) selama satu bulan ke depan, setelah lolos uji coba tiga bulan dengan jarak operasional sekitar 180 kilometer per hari.
BANDUNG — Pemerintah Kota Bandung menambah armada transportasi publiknya dengan mengoperasikan Angkutan Kota Listrik Bandung (Angklung) pada rute Simpang Soetta Kiaracondong 2 hingga Pasar Baru ABC. Angklung diposisikan sebagai kendaraan pengumpan resmi Koridor 1 Metro Jabar Trans (MJT) untuk periode satu bulan ke depan.
Penugasan ini bukan uji coba pertama. Sebelum mengaspal di rute Kiaracondong-Pasar Baru, Angklung telah melewati masa uji coba perdana pada Oktober 2025 dengan rute Gunung Batu-Stasiun Bandung.
180 Kilometer per Hari, Baterai Bertahan hingga 200 Kilometer
Selama tiga bulan masa uji coba dan penyempurnaan, armada ini menempuh jarak operasional sekitar 180 kilometer per hari. Daya baterainya mampu bertahan hingga 200 kilometer, angka yang membuat Angklung dinilai tangguh untuk pemakaian harian.
Dari sisi desain, Angklung tampil ringkas menyerupai armada MJT lain. Bedanya, kapasitas penumpangnya khusus, yakni 14 orang.
Fasilitas Kabin: Kursi Disabilitas hingga Kamera 360 Derajat
Meski berukuran lebih kompak, Pemkot Bandung menyematkan sejumlah fasilitas modern di dalam kabin. Beberapa di antaranya:
- Tempat duduk khusus bagi penyandang disabilitas.
- Pintu penumpang otomatis dan kaca panoramik yang luas.
- Monitor penunjuk titik pemberhentian serta papan iklan digital.
- Fasilitas pengisi daya (charger) untuk ponsel pintar penumpang.
- Kamera 360 derajat bagi pengemudi untuk memperluas jarak pandang dan menekan risiko kecelakaan di jalan raya.
Tanpa Uang Tunai, Hanya E-Money dan QRIS
Seluruh armada Angklung tidak lagi menerima pembayaran tunai. Penumpang yang ingin memanfaatkan rute Kiaracondong-Pasar Baru wajib menggunakan metode nontunai, baik melalui kartu uang elektronik (e-money) maupun pemindaian QRIS.
Kebijakan cashless ini menyambung program digitalisasi transportasi yang berjalan di Bandung. Penumpang yang belum memiliki kartu e-money perlu menyiapkannya sebelum naik, karena tidak ada opsi bayar tunai di dalam armada.
Dampak ke Warga: Jangkauan Transportasi Publik dan Emisi Karbon
Langkah operasional Angklung diharapkan memperluas jangkauan transportasi publik di Bandung. Rute Kiaracondong-Pasar Baru sendiri menghubungkan kawasan permukiman padat di timur kota dengan salah satu pusat perdagangan tradisional.
Selain itu, pengoperasian armada listrik ini mendukung pengurangan emisi karbon menuju lingkungan kota yang lebih bersih.