Pencarian

Leigh-Anne Pinnock Debut di London Fashion Week, Busana "Holy Milk" Tuai Pro dan Kontra

Rabu, 23 September 2026 • 12:06:01 WIB
Leigh-Anne Pinnock Debut di London Fashion Week, Busana
Leigh-Anne Pinnock tampil dalam koleksi "Holy Milk" karya Di Petsa pada London Fashion Week.

JAWA BARAT — Leigh-Anne Pinnock, mantan personel Little Mix, menarik perhatian saat debut di runway London Fashion Week dengan busana yang menampilkan cairan putih menyerupai ASI. Penampilannya dalam koleksi Di Petsa bertajuk "Holy Milk" itu langsung memicu perdebatan soal cara menampilkan tubuh perempuan hamil di panggung mode internasional.

Leigh-Anne Pinnock melangkah di presentasi koleksi Spring/Summer 2027 Di Petsa bertajuk "Holy Milk" pada Senin, 21 September 2026. Ia mengenakan atasan bergaya bra dan rok panjang putih, dengan detail cairan putih yang mengalir dari area dada sebagai elemen paling mencolok.

Penampilan itu membawa konteks personal yang kuat. Leigh-Anne tengah mengandung anak ketiganya dan berada di trimester akhir, sehingga baby bump-nya turut menjadi bagian dari narasi koleksi yang mengangkat pengalaman kehamilan dan keibuan.

Respons Publik Terbelah Dua

Visual cairan menyerupai ASI itu memunculkan beragam reaksi. Sebagian publik membacanya sebagai simbol keberanian menampilkan tubuh perempuan dan pengalaman menjadi ibu secara terbuka.

Sebagian lain mempertanyakan keputusan menjadikan elemen menyusui sebagai bagian dari penampilan fashion. Perdebatan tidak hanya soal efek cairan pada busana, tetapi juga soal batas antara ekspresi artistik dan komodifikasi pengalaman tubuh perempuan.

Makna di Balik Koleksi "Holy Milk"

Desainer Dimitra Petsa merancang "Holy Milk" untuk mengeksplorasi fase perempuan dari kehamilan hingga menyusui dan menjalani peran sebagai ibu. Koleksi itu diterjemahkan lewat material putih, siluet yang mengikuti tubuh, kain transparan, serta detail cairan yang menyerupai ASI.

Petsa menempatkan susu sebagai simbol alam, keintiman, transformasi, dan kekuatan maternal. Beberapa model lain juga membawa detail yang memperkuat tema kelahiran, perawatan, dan hubungan ibu dengan anak.

Pendekatan teatrikal menjadi ciri karya Petsa. Detail tubuh, tekstur basah, dan permainan kain membuat koleksi terasa seperti narasi visual tentang perubahan fisik yang menyertai perjalanan menuju motherhood.

Jejak Panjang Tema Menyusui di Karya Di Petsa

Eksplorasi tema menyusui bukan hal baru bagi label ini. Di Petsa menjual "Breastfeeding Bride Corset" seharga USD 1.504 atau sekitar Rp 26,8 juta, dirancang dengan potongan bagian dada agar bisa digunakan perempuan yang sedang menyusui.

Ketertarikan Petsa pada pengalaman kehamilan sudah muncul sejak masa studi di Central Saint Martins. Saat itu, ia pernah mengenakan perut hamil palsu menyerupai kehamilan sembilan bulan untuk merasakan perubahan fisik yang menyertainya.

Pada 2025, influencer Australia Cartia Mallan tampil mengenakan gaun putih-merah dari label tersebut dan memicu perbincangan serupa. Sejumlah pengikut menilai kombinasi warnanya menyerupai noda menstruasi, meski Mallan kemudian membela penampilannya.

Leigh-Anne dan Perjalanan Keibuan

Leigh-Anne sebelumnya menjadi ibu setelah melahirkan anak kembar perempuan bersama pesepak bola Andre Gray pada 2021. Kehadiran anak ketiga membuat tema keibuan dalam koleksi Di Petsa punya kaitan langsung dengan kehidupannya saat ini.

Melalui Instagram, ia menyebut pengalaman berjalan di peragaan busana tersebut sebagai sesuatu yang memberdayakan. Ia juga menyinggung cara masyarakat memandang tubuh perempuan selama kehamilan.

"Merupakan sebuah kehormatan bagi saya bisa berjalan di peragaan busana ini saat tengah mengandung anak ketiga," tulisnya.

Petsa dan Kedekatan dengan Emosi Ibu

Dimitra Petsa mengaku belum menjadi seorang ibu, tetapi merasa dekat dengan kondisi emosional yang berkaitan dengan motherhood. Ketertarikannya pada figur ibu dalam mitologi turut memengaruhi eksplorasinya terhadap tema keibuan.

Pendekatan itu membuat karya-karyanya kerap berada di persimpangan antara fashion, tubuh, dan narasi personal perempuan. Bagi sebagian orang, itu bentuk representasi yang jarang terlihat di runway. Bagi sebagian lain, batas antara simbolisme dan sensasi menjadi pertanyaan yang sah untuk didiskusikan.

Follow bumipasundan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks