JAWA BARAT — Anak usia sekolah kini makin banyak menghabiskan waktu di depan layar, sementara kebutuhan geraknya justru tidak berkurang. Panduan berikut membahas pilihan olahraga yang tepat untuk anak usia 3-5 tahun, 6-9 tahun, dan 10 tahun ke atas, plus tanda kesiapan yang perlu ibu perhatikan sebelum memilih jenis latihan.
Dokter spesialis ortopedi dr. Patar Parmonangan Oppusunggu, Sp.OT, Subsp.A(K) dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan menegaskan bahwa aktivitas fisik anak tidak harus berupa olahraga kompetitif atau latihan berat. Tujuan utamanya bukan mencetak atlet sejak dini, melainkan membangun fondasi gerak yang baik.
Fondasi itu terbentuk dari gerakan sederhana sehari-hari. Berlari, melompat, memanjat, melempar, menangkap, dan menjaga keseimbangan membantu mengembangkan motorik, memperkuat tulang dan otot, serta melatih koordinasi tubuh.
Usia 3-5 Tahun: Fokus pada Gerak Dasar
Anak di rentang usia ini belum membutuhkan olahraga terstruktur. Ibu bisa mengajak si kecil berlari, melompat, bermain bola, bersepeda, atau berenang.
Semua kegiatan itu dirancang untuk mengembangkan kemampuan motorik dasar. Tidak perlu target, yang penting anak bergerak dan merasa senang.
Usia 6-9 Tahun: Mulai Kenal Olahraga Terstruktur
Memasuki usia sekolah, anak mulai bisa diperkenalkan pada olahraga dengan aturan lebih jelas. Pilihannya cukup luas: senam, sepak bola, basket, bulu tangkis, renang, hingga bela diri.
Di tahap ini anak mulai belajar disiplin latihan dan kerja sama tim. Ibu sebaiknya mengamati minat anak, bukan memaksakan cabang olahraga tertentu.
Usia 10 Tahun ke Atas: Teknik Lebih Spesifik
Anak usia 10 tahun ke atas sudah dapat mempelajari teknik olahraga yang lebih spesifik. Intensitas latihan bisa ditingkatkan secara bertahap.
Variasi aktivitas tetap diperlukan. Sebab, growth plate atau lempeng pertumbuhan masih aktif dan lebih rentan cedera jika anak hanya fokus pada satu jenis gerakan berulang.
Manfaat Psikososial yang Sering Terlupakan
Selain mendukung fisik, olahraga membentuk disiplin, meningkatkan kepercayaan diri, dan melatih kemampuan bekerja sama. Ketahanan mental anak juga terasah lewat pengalaman menang dan kalah.
Dengan pendampingan yang tepat, aktivitas fisik menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehat yang terbawa hingga dewasa.
Kesiapan Anak Bukan Cuma Soal Fisik
dr. Burhan Sp.A, Subsp.Neuro (K) dari Mayapada Hospital Bandung menjelaskan bahwa kemampuan motorik, kognitif, bahasa, atensi, serta regulasi emosi dan perilaku saling berkaitan dalam proses tumbuh kembang.
Karena itu, pemilihan olahraga sebaiknya mempertimbangkan kesiapan anak secara menyeluruh. "Dengan memahami tahap tumbuh kembang dan karakteristik masing-masing anak, orang tua dapat memberikan aktivitas yang sesuai tanpa membuat anak merasa terbebani," tuturnya.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter
Ibu sebaiknya membawa anak ke dokter bila muncul nyeri sendi atau otot yang tidak kunjung membaik, bengkak setelah latihan, atau keluhan yang membuat anak enggan bergerak.
Untuk kebutuhan penanganan cedera olahraga, Mayapada Hospital memiliki Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) yang terintegrasi dengan Orthopedic Center dan didukung dokter subspesialis ortopedi anak.
Sementara Pediatric Center di Mayapada Hospital Bandung menyediakan Pediatric Emergency 24/7, layanan tumbuh kembang, hingga terapi okupasi dan wicara. Informasi layanan bisa diakses lewat Call Center 150770 atau WhatsApp 0817-17-150770.
Olahraga anak tidak perlu mahal atau rumit. Mulai dari lari di halaman rumah, lalu naikkan jenis aktivitas seiring bertambahnya usia dan kesiapan si kecil.