JAWA BARAT — Psikolog anak dan keluarga Jeffrey Bernstein, Ph.D., mengungkap tiga pola asuh yang tanpa disadari mengikis keyakinan anak pada kemampuannya sendiri. Kenali kebiasaan-kebiasaan ini sejak dini supaya ibu bisa memperbaiki cara merespons masalah dan emosi si kecil di rumah.
Keinginan melindungi anak dari kesulitan itu naluri setiap ibu. Tapi cara orang tua merespons masalah dan emosi anak ternyata ikut menentukan seberapa percaya diri mereka tumbuh dewasa nanti.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Jeffrey Bernstein, Ph.D., memaparkan temuannya dalam artikel yang diterbitkan Psychology Today. Menurut dia, pola komunikasi sehari-hari berperan besar dalam membentuk keyakinan anak terhadap dirinya sendiri.
1. Terlalu Sering Menyelesaikan Masalah Anak
Wajar kalau ibu ingin anak terbebas dari kesulitan. Namun ketika orang tua selalu turun tangan mengambil alih, anak kehilangan kesempatan belajar menghadapi tantangan sendiri.
Bernstein menegaskan intervensi orang tua memang kadang diperlukan. Masalahnya, kebiasaan terus-menerus menyelamatkan anak dari kesulitan justru menghambat kemampuan mereka mencari solusi.
Saat diberi ruang untuk mencoba, membuat keputusan, dan belajar dari kesalahan, anak membangun keyakinan bahwa dirinya mampu. Orang tua tetap bisa mendampingi tanpa langsung mengambil alih.
Caranya, bantu anak mengenali persoalan, mempertimbangkan pilihan, lalu menentukan langkah pertama yang bisa dilakukan. Anak tetap merasa didampingi sekaligus punya ruang mengembangkan kemandirian.
2. Meremehkan Perasaan Anak
Kalimat seperti "kamu terlalu sensitif" atau "tidak ada yang perlu dikhawatirkan" sering diucapkan untuk menenangkan. Tanpa sadar, anak menangkap pesan bahwa perasaannya tidak masuk akal atau tidak seharusnya muncul.
Bernstein menyarankan orang tua menunjukkan empati tanpa memperlakukan setiap kekhawatiran anak sebagai ancaman besar. Akui dulu apa yang sedang mereka rasakan, baru bantu memahami situasi dan mencari jalan keluar.
Respons yang tepat membuat anak belajar bahwa emosinya valid. Dari situ mereka tumbuh lebih percaya diri karena merasa didengar, bukan dihakimi.
3. Memuji Anak dengan Cara yang Kurang Tepat
Pujian yang berlebihan pada hasil akhir, misalnya "kamu memang pintar sekali", bisa membuat anak menggantungkan harga dirinya pada penilaian orang lain. Saat gagal, mereka mudah merasa tidak berharga.
Bernstein menyarankan orang tua lebih menekankan usaha dan proses. Misalnya dengan mengapresiasi kerja keras anak saat mengerjakan tugas, bukan sekadar nilai akhirnya.
Cara ini melatih anak memahami bahwa kemampuan bisa berkembang lewat usaha. Mereka pun lebih tahan menghadapi kegagalan tanpa kehilangan rasa percaya diri.
Kapan Perlu Konsultasi ke Psikolog?
Perubahan pola asuh butuh waktu, dan setiap anak punya kecepatan berbeda. Kalau anak menunjukkan tanda kepercayaan diri yang terus menurun, seperti menarik diri, mudah menyerah, atau sering merendahkan diri sendiri, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog anak.
Langkah ini bukan tanda ibu gagal, melainkan bentuk perhatian serius pada tumbuh kembang si kecil.
Membentuk kepercayaan diri anak tidak menuntut orang tua sempurna. Cukup hadir dengan respons yang lebih sadar, memberi ruang anak mencoba, dan mengakui perasaannya dengan tulus. Dari kebiasaan kecil inilah keyakinan anak pada dirinya tumbuh perlahan.