BANDUNG — Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menyatakan pihaknya telah berkonsolidasi dengan perguruan tinggi di Jabar untuk menangani persoalan persampahan dari hulu. Mahasiswa yang diterjunkan akan dibekali modul dan perangkat digital sebagai panduan pelaksanaan di lapangan.
Setiap mahasiswa peserta program mendapat konversi kegiatan menjadi 10 satuan kredit semester (SKS). Pendampingan menyasar sekitar 52 kecamatan di kawasan Bandung Raya.
Berawal dari Uji Coba Arcamanik yang Tekan Sampah 20 Persen
Program berskala besar ini merupakan pengembangan dari uji coba di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Uji coba tersebut melibatkan sekitar 500 mahasiswa selama tiga bulan.
Hasil evaluasi menunjukkan pendampingan mahasiswa mampu menurunkan timbulan sampah sekitar 20 persen. Pemilahan sampah oleh warga juga meningkat hingga dua kali lipat.
Pemda Provinsi Jabar telah menggelar konsolidasi dengan para camat dan perguruan tinggi untuk mematangkan pelaksanaan di 52 kecamatan tersebut.
Target: 1.000 Ton Sampah Ditekan Sebelum Masuk TPA Sarimukti
Herman menuturkan target utama program ini adalah mengurangi sampah dari sumbernya hingga 20 persen. Jika tercapai, sekitar 1.000 ton sampah per hari dapat ditekan sebelum mencapai TPA Sarimukti.
"Targetnya adalah mengurangi sampah dari sumbernya hingga 20 persen. Jika target tersebut tercapai, dari sekitar 5.000 ton sampah yang dihasilkan Bandung Raya setiap hari, sekitar 1.000 ton dapat ditekan sebelum mencapai TPA Sarimukti," tutur Herman di Gedung DPRD Jabar, Selasa (6/10/2026).
Pemda Provinsi Jabar turut mendorong optimalisasi fasilitas pengolahan sampah yang sudah tersedia di kabupaten dan kota di Bandung Raya. Fasilitas itu mencakup TPS 3R, pemilahan, RDF, pengomposan, hingga budidaya maggot.
Fasilitas Pengolahan Ada, tetapi Belum Bekerja Optimal
Herman menilai banyak fasilitas pengolahan sampah sebenarnya telah tersedia, tetapi belum bekerja maksimal. Salah satu penyebabnya adalah sampah yang masuk belum terpilah.
Ia mencontohkan fasilitas budidaya maggot yang membutuhkan sampah organik terpilah. Ketika sampah masih bercampur plastik dan material lain, fasilitas tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
"Sehebat apa pun teknologinya, kuncinya tetap human capital, sumber daya manusia. Urusan perilaku tidak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi harus dilakukan," katanya.
Strategi Pemda Provinsi Jabar dijalankan lewat dua pendekatan sekaligus, yakni technology engineering dan social engineering. Teknologi terus dikembangkan, sementara perubahan perilaku masyarakat didorong melalui edukasi dan pendampingan langsung.
Sarimukti Ditargetkan Beroperasi sampai Desember 2029
Seluruh langkah tersebut diharapkan memberi ruang bagi Pemda Provinsi Jabar memperpanjang masa operasional TPA Sarimukti hingga Desember 2029. Setelah itu, pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Waste to Energy di TPPAS Legok Nangka ditargetkan beroperasi penuh pada 2030.
"Harapan Pak Gubernur, Sarimukti bisa operasional sampai Desember 2029. Kami sedang upayakan hulu, tengah dan hilir," ujarnya.
Menurut Herman, persoalan sampah Bandung Raya tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan pemerintah semata. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penting karena sebagian besar persoalan bermula dari sumber sampah itu sendiri.
Ia menyoroti masih ditemukannya timbulan sampah di sejumlah titik yang sekilas terlihat bersih, tetapi ternyata terdapat timbunan sampah yang disembunyikan.
"Tidak bisa kita main angkut-angkut terus tanpa penanganan komprehensif. Saatnya ada peran serta masyarakat dan semua komponen," tegas Herman.
Herman mengajak warga Bandung Raya mulai mengurangi produksi sampah, memilah sampah sejak dari sumber, serta memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai guna.
"Pemda sudah bergerak, perguruan tinggi bergerak, Pramuka bergerak. Ayo masyarakat juga bergerak," katanya.
Menurutnya, pengurangan 20 persen saja sudah memberikan dampak signifikan terhadap sistem pengelolaan sampah Bandung Raya. Jika partisipasi masyarakat semakin kuat, pengurangan tersebut bahkan dapat melampaui target.
"Ini bukan lagi sekadar tugas dan fungsi. Ini sudah soal harga diri kita," ujar Herman.