Kota Tasikmalaya mencatat 767.854 jiwa penduduk pada 2026 dengan 525.149 jiwa atau 68,4 persen di antaranya masuk kelompok usia 15–64 tahun. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan komposisi laki-laki dan perempuan relatif berimbang, sementara kepadatan antarwilayah kecamatan tidak merata. Dominasi usia produktif membuka peluang pengembangan sumber daya manusia sekaligus menuntut kesiapan lapangan kerja dan ruang ekonomi kreatif.
BANDUNG — Badan Pusat Statistik mencatat penduduk Kota Tasikmalaya menyentuh 767.854 jiwa pada 2026. Sebanyak 525.149 jiwa di antaranya berada di rentang usia 15–64 tahun, setara 68,4 persen dari total populasi.
Proporsi itu menempatkan kelompok usia produktif sebagai penopang utama struktur demografi kota. Penduduk di rentang tersebut umumnya aktif di dunia pendidikan, pasar kerja, dan kegiatan ekonomi.
Selain soal usia, BPS juga mencatat dua hal lain dari data kependudukan Tasikmalaya. Kepadatan penduduk antarwilayah kecamatan tidak seragam, sementara jumlah laki-laki dan perempuan relatif seimbang.
Modal Sumber Daya Manusia dan Tekanan ke Pasar Kerja
Besarnya kelompok usia 15–64 tahun menjadi modal bagi Kota Tasikmalaya untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia. Kelompok muda yang mulai masuk pasar kerja membawa energi baru bagi sektor usaha dan ekonomi kreatif.
Namun komposisi ini juga memunculkan kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Lapangan pekerjaan, peningkatan keterampilan, dan ruang tumbuh bagi usaha kecil menjadi syarat agar bonus demografi tidak berbalik jadi beban.
Kota Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu pusat industri kerajinan dan kuliner di Jawa Barat. Sektor-sektor itu berpeluang menyerap tenaga kerja muda jika didukung pelatihan vokasi dan akses permodalan.
Kepadatan Penduduk Tidak Merata Antarwilayah
Data BPS menunjukkan kepadatan penduduk berbeda-beda di tiap kecamatan. Pusat kota dan kawasan perdagangan cenderung lebih padat dibanding wilayah pinggiran.
Perbedaan ini berdampak pada penyebaran layanan publik. Kecamatan berpenduduk padat menuntut ketersediaan sekolah, puskesmas, dan angkutan umum yang lebih besar.
Pemerintah daerah perlu memetakan kebutuhan itu agar pembangunan tidak menumpuk di satu titik. Pemetaan juga membantu penataan permukiman dan ruang terbuka hijau.
Komposisi Gender Relatif Berimbang
Jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Kota Tasikmalaya tercatat relatif berimbang. Keseimbangan ini memberi gambaran bahwa tidak ada ketimpangan gender yang mencolok secara jumlah.
Meski begitu, keseimbangan jumlah belum otomatis berarti kesetaraan akses. Partisipasi perempuan di pasar kerja dan posisi pengambilan keputusan tetap menjadi persoalan tersendiri.
Data demografi ini menjadi dasar bagi pemerintah kota dalam menyusun program pembangunan. Angka-angka BPS bisa dipakai untuk mengukur kebutuhan layanan dasar dan arah kebijakan ketenagakerjaan.