TASIKMALAYA — Rencana pengembangan energi panas bumi di Gunung Galunggung mendapat sorotan dari kalangan aktivis lingkungan dan komunitas pecinta alam di Tasikmalaya. Mereka menilai proyek tersebut berisiko mengganggu ketersediaan air bersih yang selama ini menjadi tumpuan warga di sejumlah kecamatan.
Kegiatan pemutaran film dokumenter "Melawan Demam Geothermal" di lingkungan Kampus Universitas Siliwangi (Unsil) menjadi ruang bagi peserta untuk membahas persoalan tersebut. Film itu mengangkat sejumlah kasus dari proyek geothermal di kawasan Gunung Gede Pangrango.
Persoalan yang diangkat meliputi kerusakan lingkungan, pencemaran, penolakan warga, hingga dugaan upaya paksa pemerintah dalam menjalankan proyek. Diskusi setelah pemutaran film menghadirkan Pepep DW dari Gunung Institute dan akademisi Zulfi Gumilang Sudrajat.
Mengapa Sumber Air Jadi Kekhawatiran Utama?
Pepep DW menilai ancaman terhadap sumber air adalah persoalan paling serius yang perlu diperhatikan sebelum proyek geothermal di Galunggung dijalankan. Menurutnya, air menjadi isu yang paling jelas terdampak.
"Air, yang paling jelas air," ungkap Pepep dalam diskusi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa pihak pendukung proyek biasanya meyakinkan masyarakat bahwa aktivitas geothermal tidak akan merusak sumber air. Argumen itu mengacu pada perhitungan teknis dan kedalaman tertentu.
"Mereka pasti pakai argumen ga akan merusak air dengan kedalaman air 2000 sekian," ucapnya.
Kamojang dan Pangalengan Disebut Jadi Bukti Empiris
Berdasarkan pengamatan yang disampaikannya, keberadaan proyek geothermal di sejumlah wilayah justru dikaitkan dengan perubahan kondisi sumber air. Pepep mencontohkan kawasan Kamojang dan Pangalengan yang menurutnya mengalami kehilangan situ setelah aktivitas geothermal berlangsung.
"Dari dua temuan ini saja secara empiris bisa dibuktikan setelah ada geothermal ada dua situ yang hilang," katanya.
Temuan itu, lanjut Pepep, perlu menjadi bahan pertimbangan serius. Sebab Gunung Galunggung berperan sebagai salah satu kawasan penyuplai air bagi wilayah Tasikmalaya dan Garut.
Apa Dampaknya bagi Warga Tasikmalaya dan Garut?
Gunung Galunggung berada di Kabupaten Tasikmalaya dan berbatasan dengan sejumlah wilayah di sekitarnya. Kawasan ini dikenal sebagai daerah resapan yang memasok air ke berbagai sungai dan mata air di Tasikmalaya serta Garut.
Jika aktivitas geothermal mengubah kondisi sumber air di kawasan tersebut, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh warga yang selama ini bergantung pada aliran air dari kawasan gunung. Kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga peternakan berpotensi terdampak.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah maupun pengembang proyek terkait kekhawatiran yang disampaikan para aktivis. Diskusi di Unsil menjadi salah satu ruang awal bagi publik Tasikmalaya untuk mencermati rencana proyek energi terbarukan tersebut.