GARUT — Dadang Johar Arifin menilai pembinaan sepak bola Garut selama ini berjalan tanpa kurikulum berjenjang, sehingga bibit pemain muda yang melimpah tidak berujung ke level kompetisi lebih tinggi. Persoalan itu, menurut dia, diperparah tata kelola organisasi yang belum berbasis kompetensi.
Karena itu, mantan Ketua Persigar itu mendorong reformasi menyeluruh di tubuh Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Garut. Fokusnya tiga hal: pembinaan kelompok usia dini, peningkatan standar pelatih, dan kepengurusan yang ramping serta kolektif.
Pembinaan U-7 hingga U-15 Jadi Prioritas Program Kerja
Dadang menekankan Askab PSSI Garut wajib menjadikan pembinaan usia dini sebagai prioritas utama, mulai dari U-7, U-9, U-12, U-13, hingga U-15. Tanpa kurikulum berjenjang, pembibitan atlet daerah dipastikan mandek di tingkat lokal.
"Garut ini gudangnya sepak bola. Potensi anak-anak kita sangat besar, tinggal bagaimana pembinaannya dilakukan secara benar, terarah, dan berkelanjutan," tegas Dadang.
Ia menilai selama ini potensi besar pemain muda Garut sering terhenti di tengah jalan. Sistem pembinaan yang tidak berkesinambungan disebutnya sebagai penyebab utama.
Minim Pelatih Berlisensi, Sertifikasi AFC Didorong
Selain infrastruktur pembinaan, Dadang menyoroti minimnya pelatih berlisensi di Garut. Kualitas regenerasi pemain, katanya, sangat bergantung pada kualitas jajaran kepelatihan di lapangan.
Askab PSSI Garut didorong aktif memfasilitasi sertifikasi kepelatihan. Kerja sama dengan instruktur berlisensi nasional maupun Asian Football Confederation (AFC) disebut sebagai jalan yang perlu ditempuh.
Kritik Kepemimpinan Terpusat pada Ketua
Dadang juga menyoroti kelemahan manajerial yang kerap melanda organisasi sepak bola daerah. Ia mengusulkan kepengurusan mendatang dibangun secara ramping dan diisi praktisi, mantan atlet, serta pemerhati dengan rekam jejak teruji.
Pola kepemimpinan personal yang terpusat pada figur ketua dinilai perlu ditinggalkan. Struktur organisasi, menurutnya, harus mengedepankan prinsip kolektif kolegial agar setiap komite memiliki kewenangan dan fungsi operasional yang jelas.
"Kalau berbicara tentang kepemimpinan, tidak semuanya harus dikerjakan sendiri oleh ketua. Ada perangkat organisasi yang harus diberi ruang untuk menyampaikan pemikiran, berdiskusi, dan mengambil keputusan bersama sesuai tugasnya," ujar Dadang.
Tujuh Tahun di Persigar dan Jejak Futsal Jawa Barat
Rekam jejak Dadang di olahraga Garut mencakup tujuh tahun kepemimpinan di Persigar. Di bawah kendalinya, Persigar sempat menembus fase krusial menuju kasta kompetisi nasional.
Persigar juga menggelar laga uji coba internasional melawan Kelantan FC dari Malaysia serta tim utama Persib Bandung. Di cabang futsal, pembinaan pelajar yang diinisiasinya mengantarkan tim Garut memuncaki tangga juara tingkat Jawa Barat.
Beberapa nama hasil pembinaan tersebut bahkan berhasil menembus skuad tim nasional futsal Indonesia.
Terbuka Selama Dipercaya Pemangku Kepentingan
Terkait desakan untuk kembali memimpin atau masuk jajaran kepengurusan sepak bola Garut, Dadang menyatakan keterbukaannya. Syaratnya, ia dipercaya oleh para pemangku kepentingan.
"Siapa pun yang dipercaya mengelola sepak bola Garut harus mampu mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Baginya, tujuan utama adalah menciptakan pembinaan usia dini yang berkualitas dan berkesinambungan," pungkasnya.