Cabai hingga Ayam Ras Tekan Harga, Deflasi Warnai Awal Tahun Jawa Barat

Penulis: Sutomo  •  Rabu, 04 Februari 2026 | 15:26:04 WIB

BANDUNG — Perekonomian Jawa Barat mengawali tahun 2026 dengan tren penurunan harga sejumlah kebutuhan pokok yang memicu deflasi sebesar 0,09 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Kondisi ini mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat, terutama setelah periode konsumsi tinggi di akhir tahun.

Turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta sektor transportasi menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih. Situasi ekonomi yang melambat ini lazim terjadi ketika tekanan ekonomi mendorong pelaku usaha menyesuaikan harga demi mempertahankan tingkat penjualan.

Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Provinsi Jawa Barat, Ninik Anisah, menjelaskan bahwa deflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan sebesar 0,91 persen dengan kontribusi deflasi mencapai 0,28 persen. Selain itu, kelompok transportasi juga mencatat deflasi sebesar 0,26 persen dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen. Penjelasan tersebut disampaikan dalam rilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

Secara komoditas, cabai merah menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil sebesar 0,10 persen. Disusul cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah yang masing-masing memberikan kontribusi deflasi sebesar 0,06 persen, serta telur ayam ras sebesar 0,04 persen. Namun demikian, beberapa komoditas masih memberikan tekanan inflasi, terutama emas perhiasan dengan andil inflasi terbesar mencapai 0,18 persen. Komoditas lain seperti tomat, ikan kembung, bawang putih, dan beras masing-masing menyumbang andil inflasi sebesar 0,01 persen.

Ninik menambahkan, hampir seluruh daerah pemantauan inflasi di Jawa Barat mengalami deflasi. Kota Bogor mencatat deflasi 0,21 persen, Kota Sukabumi 0,03 persen, Kota Bandung 0,09 persen, Kota Cirebon 0,44 persen, Kota Depok 0,16 persen, Kota Tasikmalaya 0,05 persen, Kabupaten Bandung 0,15 persen, Kabupaten Subang 0,21 persen, dan Kabupaten Majalengka 0,11 persen. Satu-satunya daerah yang mengalami inflasi adalah Kota Bekasi dengan inflasi sebesar 0,07 persen.

Inflasi merupakan kondisi yang berlawanan dengan deflasi, di mana harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan sehingga menurunkan daya beli masyarakat. Inflasi terjadi ketika pertumbuhan permintaan atau jumlah uang beredar lebih cepat dibandingkan kemampuan produksi. Meski perekonomian Jawa Barat tengah melambat, Ninik menegaskan bahwa deflasi pada awal tahun bukan hal baru. Sepanjang 2025, deflasi tercatat terjadi empat kali, yakni pada Januari, Februari, Mei, dan Agustus. Secara tahunan atau year on year (yoy), Jawa Barat masih mencatat inflasi sebesar 3,24 persen, yang masih berada di bawah target inflasi tahunan.

Reporter: Sutomo
Back to top