SUKABUMI — Dawang, 54 tahun, masih ingat betul saat pertama kali menginjakkan kaki di Perkebunan Teh Parakansalak pada 1986. Kala itu, ia dan puluhan karyawan baru lainnya langsung dikirim ke kebun untuk membuka lahan. Lahan yang tadinya ditanami karet perlahan disulap menjadi hamparan tanaman teh.
Prosesnya tidak instan. Butuh waktu tiga tahun sejak penanaman pertama hingga tanaman teh siap dipetik. Pabrik pengolahan baru berdiri pada 1990. "Semuanya karyawan baru itu pasti dipekerjakan di kebun. Dari komoditi karet diganti sama komoditi teh," kata Dawang, mantan karyawan PTPN VIII, kepada SukabumiUpdate.com.
Setelah pabrik beroperasi, produksi teh Parakansalak melesat. Dalam sehari, pabrik mampu mengolah 15 hingga 40 ton daun teh basah menjadi teh hitam kering. "Produksinya ekspor ke Eropa dan Timur Tengah," ujar Dawang.
Namun, masa kejayaan itu mulai memudar pada 2010. Dawang mencatat, produksi teh menurun secara bertahap hingga akhirnya berhenti total pada 2014. Salah satu penyebab utama adalah krisis tenaga kerja, khususnya pemetik teh yang didominasi perempuan.
"Untuk karyawan petik susah. Perempuan yang muda-muda sudah tidak mau lagi jadi pemetik teh. Mereka ke garmen," kata Dawang. Selain itu, ia menduga ada faktor lain seperti kesalahan manajemen di tubuh PTPN VIII. "Meskipun itu PTPN perusahaan besar, tidak mustahil ada kesalahan manajemen," ucapnya.
Di tengah tekanan produksi, direksi PTPN VIII memutuskan mengganti komoditas teh menjadi kelapa sawit. Penanaman sawit dimulai secara bertahap pada 2014 dan hampir rampung pada 2017. Menurut Dawang, keputusan itu didasari asumsi bahwa sawit lebih menguntungkan.
Namun, ia meragukan kesesuaian lahan. "Sebenarnya topografi kita tidak untuk sawit," ujarnya. Meski begitu, perubahan tetap berjalan. Kini, area yang dulu menjadi kebun teh berubah menjadi perkebunan sawit.
Bagi Dawang, perubahan ini meninggalkan kesan mendalam. Sejak 1986, ia ikut membuka lahan, menyaksikan pabrik berdiri, hingga akhirnya melihat sendiri komoditas yang dibesarkannya perlahan diganti. Kini, cerita kejayaan Teh Parakansalak hanya tersisa di ingatan para pekerja seperti dirinya.