ACEH — Laporan dari Radar Solo awal pekan ini mengungkap gambaran bursa transfer Liga 2 2026/2027 yang berlangsung timpang. Tiga klub menunjukkan strategi kontras: ambisius, realistis, dan misterius. Dalam situasi di mana banyak tim berlomba mendongkrak kualitas skuad, keputusan klub Jawa Barat itu justru menuai tanda tanya.
PSIS Semarang tak main-main musim ini. Klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar dikabarkan telah mengamankan beberapa pemain top yang sebelumnya memperkuat klub Liga 1. Nama-nama seperti gelandang serang berpengalaman dan bek tengah dengan jam terbang tinggi masuk dalam daftar belanja.
Langkah ini jelas: PSIS ingin memastikan tiket promosi ke kasta tertinggi. Dengan kedalaman skuad yang sudah teruji, mereka menjadi salah satu kandidat kuat juara Liga 2 musim depan.
Berbeda dengan PSIS, Kendal Tornado FC justru memilih pendekatan sebaliknya. Alih-alih mengejar nama besar, manajemen fokus memperkuat fondasi dengan merekrut pemain lokal dan pemain belakang yang tangguh. “Kami ingin tim yang solid, bukan sekadar kumpulan individu,” ujar salah satu sumber internal klub dikutip Radar Solo.
Strategi ini mungkin tidak spektakuler di atas kertas, tapi sering terbukti ampuh untuk kompetisi sepanjang musim. Kendal Tornado FC berharap konsistensi lini belakang bisa menjadi modal utama bersaing di papan atas.
Paling menarik justru datang dari sebuah klub asal Jawa Barat. Hingga pekan ketiga bursa transfer, klub tersebut belum mengumumkan satupun rekrutan baru. Kabar yang beredar justru menyebut adanya kebijakan internal yang membingungkan, termasuk penundaan negosiasi dengan beberapa pemain incaran.
Para suporter mulai resah. Di media sosial, spekulasi bermunculan—mulai dari masalah finansial hingga pergantian manajemen secara mendadak. Namun belum ada konfirmasi resmi dari pihak klub. Jika terus berlarut, strategi ini bisa berbahaya menjelang dimulainya kompetisi.
Tiga pendekatan berbeda di bursa transfer ini mencerminkan dinamika Liga 2 yang kian kompetitif. PSIS Semarang bermain cepat dan agresif, Kendal Tornado FC memilih sabar dan solid, sementara klub Jawa Barat justru bermain teka-teki. Siapa yang paling siap? Jawabannya baru akan terlihat saat kompetisi bergulir Agustus mendatang.