Harga Rata-rata Mobil Listrik Global Kini Rp 659 Juta, Kalahkan Hybrid yang Justru Naik 16 Persen

Penulis: Luthfi Hakim  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 02:48:01 WIB
Harga rata-rata mobil listrik murni (BEV) global pada 2025 tercatat lebih rendah dibandingkan kendaraan hybrid (HEV) untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.

JAWA BARAT — Momentum peralihan dari kendaraan hybrid ke listrik murni mulai menemukan titik baliknya. Laporan terbaru dari penyedia data otomotif Mobility Global yang dikutip Nikkei Asia, Senin (10/8/2026), mencatat harga rata-rata BEV pada 2025 sudah berada di bawah HEV. Ini pertama kalinya dalam lima tahun terakhir posisi harga keduanya berbalik, karena pada 2020 silam BEV masih lebih mahal sekitar 4 persen.

Perhitungan ini menggunakan harga kendaraan sebelum subsidi dan dibobot berdasarkan volume penjualan global. Artinya, harga riil yang dibayar konsumen di berbagai negara, termasuk Indonesia, bisa berbeda setelah insentif pajak atau potongan dealer.

Baterai LFP dan Dominasi China Mengubah Struktur Biaya

Faktor utama di balik penurunan harga BEV adalah ongkos produksi baterai yang terus menyusut. Baterai lithium-ion menyumbang 30-40 persen dari total biaya produksi sebuah mobil listrik. BloombergNEF memperkirakan harga baterai kendaraan penumpang telah merosot 37 persen sepanjang 2020 hingga 2025.

Produsen kini juga semakin masif menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP) yang bebas kobalt. Teknologi ini sebelumnya punya kepadatan energi rendah, namun kini terus berkembang dan menjadi andalan untuk menekan biaya. Renault dan Volkswagen sudah menyatakan akan mengadopsi baterai LFP untuk lini kendaraan listrik mereka.

China memegang peranan penting dalam tren ini. Negara tersebut menguasai sekitar 80 persen pasar baterai global dan memiliki rantai pasok terintegrasi dari hulu ke hilir. Data China Association of Automobile Manufacturers mencatat ekspor mobil listrik China mencapai 1,64 juta unit pada 2025, lompatan besar dari posisi 2020 yang masih di bawah 100.000 unit.

Pabrikan Jepang Mulai Menyesuaikan Strategi Elektrifikasi

Pergeseran harga ini ikut mengubah peta persaingan di Asia Tenggara. Thailand menjadi basis produksi utama pabrikan China seperti BYD dan Great Wall Motor. Merek China kini menguasai hampir 30 persen penjualan mobil baru di Thailand, dan di sejumlah negara Asia Tenggara serta Amerika Selatan harga BEV sudah lebih rendah dari HEV.

"Pemain China telah menumbuhkan pangsa pasar mereka dengan fokus pada mobil listrik kompak bervolume penjualan tinggi, tetapi mereka telah memperluas lini produk dengan model besar dan kelas atas yang bermargin lebih besar," kata Yoshiaki Kawano, Associate Director Mobility Global.

Kondisi ini memaksa pabrikan Jepang yang selama ini mengandalkan teknologi hybrid untuk bereaksi. Toyota masih mempertahankan pendekatan Multi-Pathway dengan menawarkan berbagai teknologi elektrifikasi sesuai karakteristik pasar. Sementara Nissan mulai memproduksi mobil listrik di China untuk diekspor ke pasar lain, memanfaatkan biaya produksi yang lebih rendah.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan mobil listrik dan plug-in hybrid (PHEV) akan menyumbang sekitar 30 persen dari penjualan kendaraan global pada 2026. Kenaikan harga bensin akibat konflik di Timur Tengah turut mempercepat minat konsumen terhadap kendaraan berbasis energi listrik.

Reporter: Luthfi Hakim
Sumber: otomotif.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top