JAWA BARAT — Kapolda Riau, Irjen Pol Mohammad Iqbal, memimpin langsung penerbangan patroli bersama unsur Forkopimda. Langkah ini diambil untuk mendapatkan gambaran akurat mengenai kondisi terkini di lapangan, sekaligus mengecek kesiapan personel dan sarana prasarana pemadaman yang telah dikerahkan.
Dari udara, tim gabungan dapat mengidentifikasi secara langsung area yang berasap tebal dan titik api yang masih menyala. Data visual ini menjadi acuan bagi tim darat untuk memprioritaskan lokasi pemadaman. Koordinasi antara patroli udara dan satuan tugas (satgas) di lapangan menjadi kunci untuk memastikan api tidak meluas ke area permukiman atau perkebunan warga.
“Pemadaman dari udara dengan water bombing tetap dilakukan jika titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau. Namun, upaya pembasahan lahan gambut secara manual terus digencarkan karena lebih efektif untuk memadamkan api di lapisan bawah tanah,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Riau, Kombes Pol Anom Karibianto, dalam keterangannya.
Data dari Satgas Karhutla menunjukkan mayoritas kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, seperti membuka lahan dengan cara dibakar. Karena itu, sosialisasi dan penegakan hukum berjalan beriringan untuk menekan jumlah hotspot. Hingga saat ini, status siaga darurat karhutla masih diberlakukan di Provinsi Riau untuk mengerahkan seluruh sumber daya secara maksimal.
Kapolda meminta seluruh pihak, termasuk perusahaan yang beroperasi di area rawan karhutla, untuk bertanggung jawab menjaga lahannya. Jika ditemukan titik api di konsesi perusahaan, sanksi tegas akan dijatuhkan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.