JAWA BARAT — Pernahkah Bunda merasakan puting terasa perih atau sakit saat mengenakan bra, bahkan ketika tersentuh kain halus sekalipun? Sensasi ini memang bisa mengganggu, terutama jika terjadi berhari-hari. Nyeri puting sebenarnya adalah keluhan yang sangat umum dan sering kali bukan merupakan kondisi berbahaya. Namun, memahami apa yang menjadi pemicunya adalah langkah pertama untuk mengatasinya dengan tepat.
Keluhan ini bisa dialami siapa saja, baik yang sedang merencanakan kehamilan, baru melahirkan, atau bahkan yang sedang tidak dalam masa menyusui. Mari kita bedah satu per satu penyebabnya agar Bunda tidak perlu cemas berlebihan.
Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron adalah biang keladi utama di balik nyeri payudara dan puting. Menjelang siklus menstruasi, kadar hormon ini naik-turun secara drastis, menyebabkan jaringan payudara menjadi lebih sensitif, terasa penuh, bengkak, dan nyeri saat disentuh.
Sensasi nyeri akibat hormon ini biasanya terasa di kedua payudara secara bersamaan. Gejala ini sering muncul satu hingga dua minggu sebelum jadwal haid dan akan mereda dengan sendirinya setelah menstruasi dimulai. Ini adalah respons tubuh yang normal, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Banyak ibu muda yang bingung membedakan nyeri payudara sebagai gejala PMS atau tanda awal kehamilan. Perbedaan utamanya terletak pada waktu dan intensitasnya. Nyeri akibat PMS cenderung hilang saat darah haid keluar, sedangkan nyeri karena kehamilan justru bisa muncul lebih awal dan terasa lebih menetap.
Pada awal kehamilan, tubuh mulai mempersiapkan jaringan payudara untuk menyusui. Payudara akan terasa lebih kencang, sensitif, dan puting lebih mudah nyeri. Jika nyeri tidak kunjung membaik dan disertai tanda lain seperti telat haid atau mual, ada baiknya Bunda segera melakukan tes kehamilan untuk memastikannya.
Selain hormon, faktor eksternal juga sering menjadi penyebab. Gesekan dari bra yang terlalu ketat, bahan pakaian yang kasar, atau aktivitas olahraga yang intens bisa membuat puting lecet dan terasa perih. Reaksi alergi terhadap sabun, deterjen, atau pelembap juga bisa memicu iritasi pada area sensitif ini.
Bagi ibu menyusui, penyebab paling umum adalah teknik perlekatan bayi yang kurang tepat. Posisi menyusui yang salah membuat puting bergesekan dengan mulut bayi secara terus-menerus, menyebabkan nyeri dan bahkan luka. Penggunaan pompa ASI dengan daya hisap terlalu kuat juga bisa memberikan efek serupa.
Bunda perlu waspada jika nyeri puting datang bersamaan dengan gejala lain seperti kemerahan, pembengkakan, rasa panas, atau keluarnya cairan yang tidak normal. Kondisi ini bisa mengindikasikan adanya infeksi jamur (candida) atau mastitis, yaitu peradangan pada jaringan payudara yang sering disertai demam.
Infeksi jamur biasanya membuat puting terasa sangat gatal, perih, dan kulitnya tampak mengkilap atau bersisik. Sementara itu, mastitis sering ditandai dengan nyeri yang dalam, kemerahan yang luas, dan rasa tidak enak badan. Kedua kondisi ini memerlukan penanganan medis, jadi jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika Bunda mengalaminya.
Untuk nyeri ringan yang bukan disebabkan infeksi, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba. Pertama, pastikan bra yang digunakan berukuran pas dan berbahan lembut serta menyerap keringat. Hindari penggunaan sabun keras atau alkohol pada area puting karena bisa memperparah kekeringan dan iritasi.
Menjaga area puting tetap bersih dan kering sangat penting. Bunda juga bisa mengoleskan pelembap khusus yang aman untuk ibu menyusui atau menggunakan kompres hangat untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Jika nyeri muncul setelah olahraga, pastikan menggunakan pakaian olahraga yang suportif untuk meminimalkan gesekan.
Meskipun jarang, nyeri puting bisa menjadi salah satu gejala awal kondisi yang lebih serius. Segera periksakan diri ke dokter jika nyeri disertai dengan benjolan baru di payudara atau ketiak, perubahan bentuk payudara, kulit yang tampak berlesung seperti kulit jeruk, atau puting yang tiba-tiba masuk ke dalam.
Keluarnya cairan dari puting yang bukan ASI, terutama jika berwarna merah, cokelat, atau kuning, juga merupakan tanda yang perlu dievaluasi. Nyeri yang menetap hanya di satu sisi payudara dan tidak membaik setelah beberapa hari juga sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan dini akan memberikan ketenangan pikiran dan memastikan kondisi Bunda tertangani dengan baik.