JAWA BARAT — Dominasi mobil Jerman di pasar otomotif China mulai goyah. Laporan dari Automotive News yang dikutip Autoblog pada 12 Agustus 2026 menyebutkan, tiga pabrikan besar asal Jerman—Mercedes-Benz, BMW, dan Volkswagen—mengalami penurunan penjualan drastis pada periode April hingga Juni tahun ini.
Penurunan lebih dari 30 persen itu terjadi di tengah gempuran pabrikan asal China yang bergerak cepat. BYD, Xiaomi, Geely, Li Auto, Aito, dan Xpeng terus mencatat pertumbuhan penjualan berkat model listrik yang secara teknologi lebih unggul dan kerap mendapatkan pembaruan tampilan atau facelift dalam siklus yang lebih singkat.
Salah satu contoh nyata adalah performa Mercedes-Benz CLA listrik. Model yang baru diperkenalkan itu hanya mencatatkan penjualan sebanyak 1.153 unit selama paruh pertama tahun ini.
Angka tersebut jauh tertinggal dari Xiaomi SU7, sedan listrik yang berada di kisaran harga serupa. Xiaomi tercatat telah mengirimkan lebih dari 80.000 unit SU7 dalam periode yang sama. Perbandingan ini menunjukkan pergeseran preferensi konsumen China yang kini lebih memilih produk lokal dengan fitur lebih lengkap.
BMW menjadi salah satu pabrikan yang paling terdampak. Lesunya penjualan di China membuat BMW memangkas perkiraan margin laba tahunannya menjadi hanya satu persen, turun signifikan dari target sebelumnya.
Model andalan seperti iX3 juga menghadapi persaingan ketat. Di segmen SUV listrik, iX3 harus bersaing dengan Tesla Model Y versi pasar China serta berbagai SUV listrik dari pabrikan lokal yang menawarkan harga lebih agresif dan teknologi baterai yang lebih baru.
China selama ini menjadi pasar terbesar bagi banyak merek Eropa, termasuk Jerman. Melemahnya penjualan di China tidak hanya menekan laba kuartalan, tetapi juga memaksa para pabrikan Jerman untuk memikirkan ulang strategi produk mereka secara global.
Untuk pasar Indonesia, situasi ini patut menjadi perhatian. Meski pangsa pasar mobil Jerman di Tanah Air masih stabil, persaingan dari merek China seperti BYD dan Wuling yang gencar memperkenalkan mobil listrik murah bisa mengubah peta persaingan dalam beberapa tahun ke depan. Pabrikan Jerman kemungkinan akan lebih agresif dalam menghadirkan model listrik dengan harga kompetitif untuk mempertahankan eksistensi mereka.