Harga Cabai Keriting Tembus Rp110 Ribu per Kg, BI Catat Lonjakan 113 Persen

Penulis: Jefri Siahaan  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 09:39:01 WIB
Harga cabai merah keriting di pasar tradisional tercatat mencapai Rp110 ribu per kilogram, menurut data PIHPS Bank Indonesia.

JAWA BARAT — Tekanan inflasi pangan kembali menguat di penghujung Agustus 2026. Berdasarkan pantauan PIHPS Bank Indonesia, hampir seluruh komoditas strategis mencatatkan kenaikan harga harian yang signifikan, dengan cabai merah keriting menempati posisi tertinggi.

Harga bawang merah ikut merangkak naik 54,64 persen menjadi Rp60.000 per kilogram, sementara bawang putih meningkat 50 persen ke level yang sama. Kenaikan ini terjadi di tengah gangguan distribusi dan cuaca yang mempengaruhi masa panen di sentra produksi.

Beras Ikut Bergerak, Kualitas Medium Naik 15 Persen

Kenaikan tidak hanya terjadi pada bumbu dapur. Beras kualitas medium I tercatat naik 15,15 persen menjadi Rp19.000 per kg, sedangkan medium II meningkat 7,36 persen menjadi Rp17.500 per kg. Beras kualitas super I naik 9,56 persen ke Rp19.500 per kg, dan super II naik 7,25 persen menjadi Rp18.500 per kg.

Harga beras kualitas bawah juga tidak ketinggalan. Beras bawah I naik 14,48 persen menjadi Rp17.000 per kg, sementara bawah II bertambah 16,04 persen ke harga yang sama. Pola kenaikan yang merata di semua kelas kualitas ini menunjukkan gangguan berada di sisi pasokan, bukan hanya pergeseran permintaan.

Pola Musiman dan Faktor Distribusi Jadi Pemicu Utama

Data PIHPS yang dipublikasikan Senin pagi ini merefleksikan harga eceran di pasar tradisional berbagai daerah. Lonjakan harga terjadi hampir serentak di semua kelompok pangan, mengindikasikan adanya kendala di rantai pasok menjelang awal bulan.

Menjelang akhir bulan dan memasuki periode awal September, permintaan cenderung meningkat seiring pola konsumsi rumah tangga. Namun di saat yang sama, pasokan dari sentra produksi seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah mengalami hambatan akibat cuaca yang belum stabil.

Proyeksi Tekanan Harga dan Implikasi ke Depan

Kenaikan harga cabai dan bawang yang tajam berpotensi berdampak pada tekanan inflasi bulanan Agustus yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pekan depan. Para pengamat memprediksi inflasi pangan bergejolak akan memberikan sumbangan signifikan terhadap laju inflasi umum.

Bank Indonesia sebagai penerbit data PIHPS rutin memanfaatkan informasi ini untuk mengkaji arah kebijakan moneter, termasuk keputusan suku bunga acuan. Jika tekanan harga berlanjut, inflasi inti yang selama ini terkendali berisiko terkontaminasi oleh ekspektasi harga konsumen.

Bagi konsumen, lonjakan ini berarti pengeluaran harian untuk memenuhi kebutuhan pokok akan lebih berat setidaknya hingga satu hingga dua pekan ke depan, sebelum pasokan baru dari masa panen berikutnya masuk ke pasar. Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Pertanian atau Perdagangan mengenai langkah operasi pasar untuk menekan harga komoditas tersebut.

Reporter: Jefri Siahaan
Sumber: inews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top