JAWA BARAT — Untuk 2026, BYD menargetkan ekspor 1,9 juta hingga 2 juta kendaraan. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi tahun lalu.
Manajemen BYD menyebut keterbatasan kapasitas pengiriman menjadi faktor yang menahan penjualan di luar China tahun ini. Tanpa kendala itu, volume ekspor berpotensi lebih tinggi.
Deutsche Bank menilai BYD punya ruang tumbuh pangsa pasar di luar negeri. Perusahaan disebut terus menambah kapal pengangkut kendaraan dan memperluas fasilitas produksi di luar China.
Pabrik BYD di Hungaria dijadwalkan mulai merakit kendaraan pada November atau Desember. Manajemen juga tengah mempertimbangkan lokasi lain untuk pabrik baru di luar China.
Langkah produksi di negara tujuan bukan tanpa alasan. BYD bisa menghindari tarif impor kendaraan listrik berbaterai sekitar 27 persen dari Uni Eropa dan 34 persen di Brasil.
Citi memperkirakan produksi lokal menghemat lebih dari 40.000 yuan atau sekitar US$5.961 per kendaraan. Manajemen BYD menilai penghematan itu cukup menutup biaya awal pembangunan dan peningkatan produksi pabrik baru.
Di pasar domestik, BYD membidik penguasaan 25 persen pasar mobil penumpang China. Pangsa pasar perusahaan tercatat 18 persen pada Juli, naik tajam dari 8 persen di awal tahun.
Perusahaan tak berhenti di produksi dan penjualan. BYD berencana membangun 90.000 stasiun pengisian cepat hingga 2028 dengan rincian 20.000 stasiun rampung akhir 2026, 30.000 stasiun pada 2027, dan 40.000 stasiun pada 2028.