BANDUNG — Penurunan harga emas Antam pada awal Oktober 2026 menandai koreksi setelah periode penguatan. Harga buyback yang lebih rendah dari harga jual menciptakan jarak Rp190.000 per gram, angka yang harus dilampaui investor sebelum meraih untung saat menjual kembali emas mereka.
Di pasar global, harga emas diproyeksikan bergerak di kisaran US$4.000–4.450 per troy ons sepanjang Oktober. Rentang itu menjadi acuan bagi pergerakan harga emas dalam negeri, termasuk produk Antam yang menjadi patokan umum di pasar ritel Indonesia.
Koreksi harga emas tidak terjadi tanpa sebab. Pasar menanti arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang akan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026.
Hasil rapat tersebut menjadi penentu utama apakah harga emas kembali menguat atau melanjutkan pelemahan. Keputusan suku bunga The Fed memengaruhi daya tarik emas dibandingkan instrumen lain seperti obligasi dan deposito dolar AS.
Selain suku bunga The Fed, sejumlah indikator lain turut menentukan arah harga emas sepanjang Oktober. Investor yang ingin masuk atau menambah posisi perlu mencermati kelima faktor berikut:
Selisih Rp190.000 antara harga jual dan harga buyback bukan angka kecil. Investor yang membeli emas di harga Rp2.581.000 per gram baru akan mencapai titik impas ketika harga buyback naik melewati angka tersebut.
Artinya, kenaikan harga emas harus cukup signifikan sebelum investor bisa menikmati keuntungan saat menjual kembali. Perhitungan ini sering terlewat oleh pembeli emas pemula yang hanya melihat tren kenaikan harga jual.
Dengan rentang proyeksi harga Antam di Rp2,4 juta hingga Rp2,75 juta per gram sepanjang Oktober, ruang pergerakan masih terbuka. Namun arah akhirnya bergantung pada keputusan The Fed dan respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat.
Bagi investor di Jawa Barat dan kota lain, memantau kelima faktor tersebut secara berkala menjadi langkah paling masuk akal sebelum mengambil keputusan jual atau beli emas bulan ini.