SURABAYA — Perangkat yang dikenakan Ye Su sekilas tampak seperti kacamata biasa. Baru setelah ia turun dari podium dan kembali ke kursinya, ia melepas kacamata itu dan memberi tahu tamu di meja yang sama bahwa dirinya memakai perangkat istimewa.
Ye Su menyampaikan hal itu sambil menikmati hidangan di Hotel Vasa Surabaya. Sepanjang berpidato, ia memang tidak terlihat membaca teks dan tidak membawa catatan.
Ye Su menyebut kacamatanya sedikit agak besar. Setelah dipakai, baris-baris kalimat pidato langsung terlihat di lensa.
Meski kaca kacamata berada sangat dekat dengan mata, teksnya tampil seolah berada jauh di depan. Tampilannya tidak berbeda dengan membaca teks film di layar lebar, bahkan terlihat lebih jelas.
Pengalaman itu mengingatkan pada mobil listrik BYD jenis sedan. Saat dikemudikan, angka kecepatan tampil seolah berada sekitar 10 meter di depan mobil, bukan di speedometer dashboard.
Dengan begitu, mata pengemudi tetap bisa fokus ke jalan raya tanpa perlu menunduk mengecek panel instrumen.
Kacamata itu dicoba bergantian oleh tamu di meja yang sama. Yang diminta mencoba pertama adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang baru, Gus Kikin.
Berikutnya pengusaha besar pemilik grup Maspion, Alim Markus, lalu Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, istri Wagub yang dikenal sebagai artis, dan anggota DPR dari PDI-Perjuangan dapil Surabaya, Indah Kurnia.
Dahlan Iskan mendapat giliran terakhir. Ia mengaku baru percaya setelah mencobanya sendiri dan melihat baris kalimat pidato muncul di lensa.
Kacamata jenis ini bukan barang baru. Amerika menjadi negara pertama yang memproduksinya, disusul Jepang pada 2012–2013.
Saat itu perangkat tersebut tidak segera memasyarakat karena mahal dan kurang praktis. Tiongkok kemudian mengambil alih pengembangan dengan menyederhanakan bentuk, membuatnya lebih praktis, dan menekan harga.
Kacamata yang dipakai Ye Su merupakan produk Tiongkok. Merek yang paling terkenal adalah Rokid buatan Hangzhou, selain Even G2.
Tiongkok bukan yang pertama mengembangkan teknologi ini, tetapi produk dengan bentuk yang sangat mirip kacamata biasa merupakan buatan Tiongkok.
Kehadiran kacamata pintar berteleprompter berpotensi mengubah cara penyiar televisi, presiden direktur perusahaan, hingga peserta rapat menyampaikan materi.
Penyiar TV bisa beralih ke perangkat ini. Bagi investor, peralihan tersebut berarti penghematan investasi pembangunan stasiun televisi.
Paparan materi rapat pun tidak perlu lagi ditayangkan di layar besar. Setiap peserta cukup mengenakan kacamata sejenis.