BANDUNG — Beras yang disalurkan Bulog Kanwil Jabar ke Kota Bandung diterima masyarakat melalui sejumlah kanal, termasuk program SPHP, Bantuan Pangan, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta penjualan lewat pasar rakyat dan ritel modern. Outlet binaan Perum Bulog turut menjadi jalur distribusi.
"Termasuk outlet-outlet binaan milik Perum BULOG," tutur Octa, Humas Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Barat, dalam keterangan yang diterima media.
Penyaluran beras itu menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap ketersediaan pangan di Kota Bandung. Pasokan beras dalam kota dilaporkan makin menipis seiring lahan pertanian yang terus berkurang.
Bulog Kanwil Jabar menggelontorkan beras ke Kota Bandung melalui empat skema berbeda. Masing-masing menyasar kelompok penerima yang tidak sepenuhnya sama.
Dari seluruh kanal itu, total 59.654 ton beras telah diterima masyarakat Kota Bandung tahun ini.
Selain mendistribusikan beras, Bulog menyerap hasil panen petani di wilayah Bandung Raya. Jumlahnya bervariasi antar daerah.
Rekap data serapan per 24 September mencatat Kabupaten Sumedang menyumbang 46.460,62 ton. Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi bersama-sama tercatat 8.781,13 ton.
Kabupaten Bandung menyerap 39.650,38 ton. Sementara dari Kota Bandung, serapan yang tercatat hanya 1.520,37 ton.
Kota Bandung bukan daerah lumbung padi. Lahan pertanian di wilayah ini terus menyusut seiring alih fungsi lahan untuk permukiman dan komersial.
Kondisi itu membuat pasokan beras dalam kota bergantung pada pasokan dari kabupaten sekitar. Bulog masuk sebagai salah satu pemasok untuk menutup kekurangan tersebut.
Ketika pasokan di pasar mengetat, Bulog ikut terlibat dalam kegiatan GPM yang diadakan Pemkot Bandung. Langkah itu disebut sebagai strategi menjaga stabilitas beras di masyarakat.
Diharapkan kucuran beras dari berbagai program tersebut bisa menopang ketersediaan pangan warga Kota Bandung, terutama saat harga di pasar bergejolak.