PANGALENGAN — Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung, Suhaidi Ahadi, menjelaskan rangkaian gempa di Pangalengan berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Karena sesar tersebut berada di permukaan, gempa yang dihasilkan cenderung dangkal.
Apa yang Membuat Gempa Pangalengan Berulang?
"Gempa ini merupakan aktivitas sesar aktif. Sesar aktif ini adalah sesar permukaan, jadi gempa yang terjadi adalah gempa dangkal," ucap Suhaidi dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Jakarta, Kamis, 17 September 2026.
Data BMKG hingga pagi itu mencatat 47 gempa kecil, beberapa di antaranya dirasakan warga. Masyarakat diminta tidak panik dan meningkatkan pemahaman soal potensi ancaman di lingkungan tempat tinggal.
Mengapa Longsor Jadi Ancaman Berikutnya?
Suhaidi menilai ancaman longsor perlu diperhatikan karena wilayah sedang memasuki musim kering dengan hujan yang relatif jarang. Warga yang bermukim dekat tebing paling rentan karena guncangan gempa dapat memengaruhi kestabilan lereng.
"Sekarang Indonesia dalam keadaan musim kering, dimana jarang sekali ada hujan. Takutnya apabila ada goncangan terus, maka potensi ancaman selanjutnya adalah longsor," katanya.
Edukasi Lewat Desa Tangguh Bencana
BMKG bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung dan pihak kecamatan terus mendorong edukasi bagi warga. Program Desa Tangguh Bencana serta kelompok siaga bencana jadi kanal utama penyampaian informasi.
Sebelumnya, BMKG menggelar sosialisasi kebencanaan bersama Kecamatan Pangalengan. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi perhatian utama agar warga mampu menghadapi aktivitas gempa tanpa kepanikan.
"Tiga minggu yang lalu, saya bersama dengan Camat Pangalengan sudah melakukan sosialisasi gempa. Intinya, masyarakat kita perlu membangun kesiapsiagaan, tidak perlu khawatir," ucapnya.
Warga Diminta Kenali Wilayah dan Abaikan Hoaks
Upaya edukasi diarahkan agar informasi aktivitas gempa tersampaikan ke seluruh elemen warga di kawasan Pangalengan. Suhaidi menyebut masyarakat perlu mengenali kondisi wilayahnya karena sebagian warga tinggal di kawasan bersesar aktif.
BMKG juga mengimbau warga tidak mempercayai kabar yang bersumber dari hoaks. Dengan kesiapsiagaan yang lebih baik, warga Pangalengan diharapkan mampu mengenali ancaman gempa sekaligus potensi longsor.
Untuk memperoleh perkembangan gempa secara resmi, masyarakat dapat mengunduh aplikasi Info BMKG. BMKG turut berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan lain agar edukasi kebencanaan diterima masyarakat secara lebih luas.