BANDUNG — Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mengembangkan potensi ekonomi daerah. Menurutnya, pembangunan ekonomi daerah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri jasa keuangan, dunia usaha, dan masyarakat.
"Pembangunan ekonomi daerah membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri jasa keuangan, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Melalui kolaborasi yang kuat, potensi komoditas unggulan Jawa Barat dapat terus dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," ujar Dian.
Program EGG mengusung tema "Ti Lembur ka Global, Ngawangun Ekonomi Jabar Istimewa". Pendekatan yang dipakai adalah ekosistem kemitraan terpadu atau closed loop dari hulu hingga hilir.
4.565 Peternak di 21 Sentra Jadi Sasaran Program
Program EGG melibatkan 4.565 pelaku usaha ternak ayam petelur, baik perorangan maupun perseroan. Mereka tersebar terutama di 21 sentra peternakan ayam petelur di Jawa Barat.
Dian menambahkan bahwa pembiayaan perlu berjalan bersama dukungan lain agar memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha.
"Pembiayaan perlu disertai pendampingan, literasi keuangan, akses pasar, penguatan kelembagaan usaha, pemanfaatan teknologi, dan manajemen risiko agar dapat meningkatkan produktivitas dan memperkuat usaha peternak," ujar Dian.
Peternak Disambungkan ke Pasar dan Program Makan Bergizi Gratis
Selain memperluas akses pembiayaan, Program EGG menghubungkan peternak ayam petelur dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kemitraan ini memperkuat kepastian pasar sekaligus mendukung penyediaan telur bagi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Barat.
Kemitraan tersebut diproyeksikan menghasilkan efisiensi anggaran sekitar Rp4,23 triliun per tahun. Efisiensi diperoleh melalui penyediaan telur dengan harga sekitar 10 sampai 15 persen lebih rendah dibandingkan harga pasar.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman menjelaskan bahwa pendekatan closed loop menjadi bagian penting dalam implementasi Program EGG.
"Program EGG kami arahkan untuk memastikan akses keuangan berjalan beriringan dengan kepastian pasar, pendampingan, dan penguatan rantai nilai. Dengan demikian, produktivitas dan skala usaha peternak dapat terus berkembang," ujar Darwisman.
Ekspor Telur Tetas Jabar Melonjak 513 Persen
Pada sisi hilir, OJK bersama Pemprov Jawa Barat membuka peluang perluasan pasar bagi pelaku usaha ayam petelur. Sasaran ekspansinya mencakup pasar luar Jawa Barat hingga ekspor.
Data semester I 2026 mencatat nilai ekspor fertilized eggs for incubation of fowl atau telur tetas Jawa Barat mencapai US$550,23 ribu. Angka ini meningkat 513 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, dengan negara tujuan antara lain Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Pengembangan hilirisasi juga diarahkan pada pengolahan telur menjadi produk bernilai tambah. Produk tersebut antara lain tepung telur, produk sarapan Breggfast, pupuk berbahan cangkang telur, serta nutrisi hewan peliharaan.
Diversifikasi produk itu dapat memperluas pasar sekaligus mengurangi potensi kerugian peternak. Pasalnya, masa simpan telur ayam relatif singkat.
DOC Jabar Mulai Diekspor ke Timor-Leste
Sebagai bagian dari implementasi Program EGG, sejumlah agenda penguatan ekosistem digelar. Salah satunya peresmian ekspor day-old chick (DOC) dari eksportir Jawa Barat PT Intama Taat Anugerah ke Timor-Leste.
Agenda lain adalah penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja Sama Pengembangan Peternak Ayam Petelur di Jawa Barat. Kegiatan itu turut dihadiri Anggota Komisi XI DPR RI Dapil Jawa Barat V Kabupaten Bogor Mulyadi, Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Buky Wibawa Karya Guna, serta 150 perwakilan peternak.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menyambut baik kolaborasi OJK dan Pemprov Jawa Barat dalam pengembangan komoditas ayam petelur.
"Kami berharap pengembangan komoditas ayam petelur tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus dikawal dan dikembangkan secara berkelanjutan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan peternak," ujar Herman Suryatman.