GARUT — Aktivis Jawa Barat, Asep Lukman, menilai perombakan pimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) merupakan indikasi pemerintah tengah melakukan koreksi serius terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, pergantian dari Nanik S. Deyang ke Sudaryono tidak bisa dipandang sebagai rotasi biasa.
"Terlepas dari alasan kesehatan yang disampaikan ke publik, saya melihat ada pertimbangan strategis di balik pergantian ini. BGN adalah lembaga baru dengan tugas yang sangat besar dan kompleks," ujar Asep dalam keterangan yang diterima, Kamis (23/7/2026).
Asep menilai pemimpin BGN setidaknya harus memiliki tiga kemampuan utama: integritas dalam menghadapi risiko hukum, kapasitas teknokratik untuk menjalankan organisasi, serta kemampuan kepemimpinan dalam mengelola dinamika kebijakan dan birokrasi. Ia menambahkan, Nanik menghadapi tantangan berat dalam membangun organisasi baru sekaligus mengawal program yang menjangkau jutaan penerima manfaat di berbagai daerah.
"Saya melihat Sudaryono memiliki peluang untuk membawa perbaikan. Namun, keberhasilan program tidak cukup hanya dengan mengganti figur, melainkan harus dibarengi pembenahan sistem secara menyeluruh," katanya.
Selain soal gizi, Asep menyoroti potensi ekonomi dari program MBG. Menurutnya, keberadaan dapur MBG dapat menciptakan perputaran ekonomi melalui keterlibatan petani, peternak, nelayan, serta pelaku UMKM sebagai pemasok bahan pangan.
"Yang diberi makan bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga ekosistem usaha di bawahnya. Ada perputaran ekonomi yang tercipta dari program ini," ujar Asep.
Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan MBG masih jauh dari sempurna. Persoalan tata kelola, distribusi bahan pangan, kualitas layanan, hingga dugaan penyimpangan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah.
Asep menilai pemerintah memilih jalur perbaikan dibandingkan menghentikan program yang telah berjalan. Langkah tersebut dianggap lebih realistis mengingat MBG merupakan program nasional yang telah melibatkan banyak pihak dan menyentuh kepentingan masyarakat luas.
"Buktinya ada evaluasi, ada pergantian, ada perbaikan. Itu menunjukkan pemerintah sendiri belum merasa puas dengan kondisi yang ada sekarang," katanya.
Menurut Asep, keberhasilan MBG pada akhirnya bergantung pada kemampuan pemerintah memperbaiki tata kelola, meningkatkan transparansi, serta memastikan manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat. "Harapannya, pergantian kepemimpinan ini menjadi momentum untuk memperkuat BGN sehingga tujuan besar Program Makan Bergizi Gratis bisa tercapai secara lebih efektif," ujar dia.