DPKP Sumedang Arahkan Petani ke Palawija Hadapi El Nino, Stok Jagung Capai 79.565 Ton

Penulis: Khoirul Anwar  •  Selasa, 28 Juli 2026 | 19:21:04 WIB
Petani di Sumedang mulai beralih menanam palawija seperti jagung dan ubi kayu sebagai antisipasi dampak El Nino terhadap produksi padi.

SUMEDANG — Kepala Bidang Ketahanan Pangan pada DPKP Kabupaten Sumedang, Iwan Gustiawan, mengatakan penyesuaian pola tanam dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah, indeks pertanaman, serta ketersediaan air. Ia menegaskan petani tidak perlu memaksakan menanam padi di lahan yang tidak mendukung.

Petani Didorong Tidak Bergantung pada Satu Kali Panen

"Kalau sawah hanya mengandalkan satu kali panen tentu risikonya lebih besar. Petani didorong menyesuaikan pola tanam, kalau memungkinkan bisa dua kali panen atau menanam komoditas lain yang lebih tahan terhadap musim kemarau," kata Iwan di Sumedang, Selasa.

Menurutnya, di Kecamatan Jatinunggal misalnya, sudah ada wilayah yang masuk kategori IP satu. Petani di sana diarahkan untuk beralih ke komoditas lain yang lebih adaptif terhadap kondisi kering.

Jagung dan Ubi Kayu Jadi Andalan Alternatif

Saat curah hujan rendah, petani dapat menanam palawija seperti jagung, ubi jalar, dan ubi kayu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumedang mencatat produksi jagung pipilan pada 2025 mencapai 79.565 ton, sementara produksi ubi kayu tercatat 88.575 ton.

Ubi jalar menjadi salah satu komoditas unggulan daerah melalui pengembangan Ubi Cilembu. Komoditas ini dikembangkan di lahan seluas sekitar 460 hektare dengan produksi mencapai 7.820 ton per tahun.

"Yang penting produksi pangan tetap berjalan. Kalau kondisi air tidak memungkinkan untuk padi, bisa dialihkan ke komoditas yang lebih sesuai," ujar Iwan.

Cadangan Pangan Daerah Juga Diperkuat

Selain mendorong diversifikasi tanaman, DPKP Sumedang memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) sebagai instrumen menjaga ketersediaan pangan saat terjadi gangguan produksi. Saat ini stok CPPD Kabupaten Sumedang tercatat sekitar 321,1 ton beras, berada di atas kebutuhan minimal cadangan pangan daerah yang berada di angka sekitar 220 ton.

Iwan menjelaskan bahwa CPPD dapat digunakan untuk penanganan bencana alam, kerawanan pangan, maupun kondisi darurat lainnya. Penyaluran dilakukan berdasarkan usulan desa yang kemudian diverifikasi melalui kecamatan dan petugas terkait.

Reporter: Khoirul Anwar
Sumber: jabar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top