JAWA BARAT — Lahan pascatambang punya masalah klasik: tanahnya rusak parah, miskin unsur hara, dan sulit ditumbuhi tanaman. Topsoil sudah hilang, struktur tanah hancur secara fisik, kimia, dan biologis. BRIN mengklaim BioReKarst 3S mampu mengatasi persoalan itu tanpa menggunakan bahan kimia sintetis.
"Teknologi ini ditujukan untuk mendukung kegiatan reklamasi pada berbagai sektor pertambangan," ujar Retno Prayudyaningsih, peneliti dari Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Selasa (28/7).
Jantung dari teknologi ini adalah Isomik MK1, pupuk hayati berbasis fungi mikoriza arbuskular yang diisolasi langsung dari kawasan karst. Cukup 5 gram per lubang tanam, jamur ini membentuk simbiosis dengan akar tanaman. Hasilnya, penyerapan fosfat meningkat drastis dan tingkat hidup tanaman di lahan bekas tambang jadi lebih tinggi.
Dalam 12 bulan, populasi bakteri dan jamur tanah ikut melonjak. Artinya, kehidupan biologis tanah mulai pulih secara alami.
BRIN merekayasa proses pemulihan dengan meniru suksesi alami lewat tiga strata. Pertama, penanaman cover crop untuk melindungi permukaan tanah. Kedua, pohon pionir untuk menambah biomassa. Ketiga, pohon berumur panjang untuk membentuk hutan permanen. Semua dibantu lubang tanam mekanis dan hidrogel yang menjaga retensi air di lahan karst berbatu.
BRIN melihat potensi lebih besar dari sekadar reklamasi. Biomassa hutan yang tumbuh kembali di lahan bekas tambang bisa dikonversi menjadi skema carbon offset atau kredit karbon. Ini membuka peluang bagi perusahaan tambang untuk mendapatkan insentif ekonomi dari kegiatan rehabilitasi yang selama ini dianggap sebagai beban biaya.
Retno menambahkan, inovasi ini juga sudah dibuka untuk produksi massal inokulum fungi mikoriza. BRIN juga menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) agar teknologi ini bisa direplikasi di berbagai kawasan tambang di Indonesia.
Dengan pendekatan ini, lahan yang dulunya gersang dan tak bernyawa perlahan berubah menjadi hutan yang produktif—sekaligus bernilai ekonomi lewat perdagangan karbon.