BANDUNG — Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong koperasi di kota itu berbenah diri. Menurutnya, koperasi tak boleh lagi identik semata-mata dengan usaha simpan pinjam.
“Koperasi bukan sekadar program politik atau kegiatan seremonial. Koperasi adalah bentuk nyata demokrasi ekonomi yang harus mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat,” kata Farhan di Bandung, Rabu.
Farhan optimistis Bandung punya modal besar untuk mewujudkan transformasi itu. Sebab, kota ini memiliki sumber daya manusia yang kreatif dan ekosistem ekonomi digital yang terus tumbuh.
“Tambang emas Kota Bandung adalah manusianya. Karena itu saya ingin wajah baru koperasi Indonesia lahir dari Kota Bandung, dengan ide-ide kreatif, inovasi digital, dan semangat gotong royong,” ujarnya.
Farhan mengusulkan penerapan konsep gamifikasi dalam pengelolaan koperasi. Langkah ini dinilai bisa menjadi sarana edukasi sekaligus meningkatkan partisipasi anggota melalui aplikasi digital yang interaktif.
Ia juga mendorong pengurus koperasi memanfaatkan aplikasi pencatatan keuangan digital. Tujuannya, seluruh aktivitas usaha bisa dipantau dan dipertanggungjawabkan secara terbuka.
“Jangan mengandalkan ingatan. Gunakan sistem pencatatan digital sehingga pengurus maupun anggota dapat memantau kondisi keuangan dan usaha kapan saja,” kata Farhan.
Di sisi lain, Farhan mengingatkan pentingnya integritas, khususnya bagi koperasi simpan pinjam. Prinsip-prinsip koperasi harus dijalankan secara benar dan transparan.
“Koperasi harus dikelola dengan semangat kebersamaan dan transparansi. Jangan sampai dijadikan kendaraan untuk kepentingan segelintir orang atau praktik yang merugikan anggota,” katanya.
Farhan membayangkan suatu saat startup digital di Kota Bandung bisa tumbuh dari kekuatan anggota koperasi. Menurutnya, saat ini hal itu mungkin masih terdengar seperti mimpi, tetapi beberapa tahun ke depan sangat mungkin diwujudkan.
Ia menekankan koperasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui digitalisasi, tata kelola profesional, serta inovasi model bisnis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pembiayaan perusahaan rintisan pun tidak hanya bergantung pada modal ventura.