CILEGON — Terminal LPG Tanjung Sekong mengelola kapasitas penyimpanan 98.000 metrik ton (MT) di atas lahan seluas 12,9 hektare. Infrastruktur yang mulai beroperasi pada 2012 dan disempurnakan menjadi terminal refrigerated pada 2020 ini mengandalkan tiga dermaga berkapasitas 3.500–65.000 DWT untuk melayani kapal pengangkut elpiji.
Dengan throughput menembus 200 ribu MT per bulan, terminal ini menempati posisi strategis dalam peta ketahanan energi nasional. Baron, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menyebut terminal ini beroperasi 24 jam tanpa henti.
Bagi warga Jawa Barat, terminal ini menjadi penjamin ketersediaan tabung melon 3 kilogram dan elpiji nonsubsidi. Distribusi dari Cilegon menjangkau 63 kabupaten/kota, termasuk wilayah padat penduduk seperti Bandung Raya, Bogor, Depok, Bekasi, hingga Cirebon.
Keandalan pasokan dari terminal ini menentukan stabilitas harga dan kelancaran aktivitas ekonomi di tingkat warung, rumah makan, hingga industri kecil menengah.
Dalam kunjungan kerjanya, Mochamad Iriawan meninjau proses penerimaan, penyimpanan, hingga sistem distribusi LPG. Perhatian khusus diberikan pada penerapan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) yang menjadi fondasi operasional terminal.
“LPG bukan sekadar komoditas energi, tetapi kebutuhan dasar yang menunjang aktivitas sehari-hari masyarakat. Karena itu, keandalan pasokannya harus terus dijaga agar rumah tangga, UMKM, hingga industri dapat beraktivitas tanpa hambatan,” ujar Iriawan dalam keterangan resmi yang diterima SATUJABAR.
Pertamina juga menggenjot efisiensi melalui digitalisasi rantai pasok. Pemantauan stok secara real-time dan optimalisasi waktu sandar kapal menjadi prioritas agar distribusi elpiji ke berbagai wilayah bisa lebih cepat dan tepat sasaran.
Terminal ini tidak hanya fokus pada keandalan pasokan, tetapi juga transformasi menuju operasi berkelanjutan. Inisiatif dekarbonisasi tengah dijajaki, termasuk pemanfaatan energi rendah emisi untuk mendukung kegiatan operasional harian.
Baron menambahkan, kesiapan seluruh pekerja dalam menjaga setiap tahapan distribusi menjadi kunci utama. “Operational excellence terminal ini tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh disiplin operasional, penerapan HSSE, serta kesiapan seluruh pekerja dalam menjaga setiap tahapan distribusi LPG. Dari sinilah pasokan energi untuk masyarakat dapat terus terjaga,” jelasnya.
Status Objek Vital Nasional yang disandang terminal ini menegaskan posisinya sebagai aset krusial yang wajib diamankan dan dijaga kelangsungan operasinya.