JAWA BARAT — Gelaran yang mengusung tema "Dari Grassroot Untuk Indonesia" ini menjadi penanda kebangkitan akademi Arema FC setelah vakum beberapa musim. Manajer Operasional Arema FC, Sudarmaji, menyebut ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan fondasi untuk mencetak generasi emas sepak bola nasional.
"Ini tonggak sejarah baru bagi kami. Kami ingin mengasah inteligensi bermain, kebugaran fisik, dan yang terpenting, menempa karakter sportivitas anak-anak sejak dini," ujar Sudarmaji dalam sambutannya di pembukaan festival, Sabtu pagi.
Sudarmaji memberikan instruksi khusus kepada para pelatih SSB yang hadir. Ia meminta seluruh pelatih memberikan porsi bermain yang sama kepada semua pemain, tanpa terkecuali.
"Jadikan festival ini ajang uji kualitas. Jangan ada pemain yang dicadangkan, berikan semua kesempatan bermain untuk menambah jam terbang," tegasnya.
Ia juga berpesan kepada para orang tua untuk mempercayakan jalannya pertandingan kepada pelatih dan panitia. Intervensi berlebihan dari tribun justru akan merusak kesenangan anak-anak dalam bermain.
Founding Father Arema FC, Ovan Tobing, turut hadir dan memberikan wejangan spesial kepada para peserta cilik. Dengan gaya khasnya yang menggelegar, Ovan mengingatkan bahwa sepak bola adalah tentang kebahagiaan dan kebersamaan.
"Jika ada pertikaian atau pertengkaran di lapangan, berarti kalian sedang mencederai kesenangan kalian sendiri," ucap Ovan di hadapan para pemain muda.
Ia mencontohkan hal sederhana seperti inisiatif mengambil bola yang keluar lapangan sebagai bentuk solidaritas yang harus dipupuk sejak belia. Ovan juga mengapresiasi para pelatih dan orang tua yang rela berkorban demi kebahagiaan anak-anak.
Ketua Panitia Pelaksana, Dani Herlambang, merinci pembagian kategori yang akan bertanding. Festival ini terbagi dalam tiga kelompok umur dengan total 96 SSB yang tersebar dari Malang Raya hingga luar pulau.
Dani berharap festival ini bisa menjadi agenda reguler tahunan Arema FC. Menurutnya, ekosistem sepak bola yang sehat hanya bisa dibangun melalui kompetisi usia dini yang konsisten dan berkelanjutan.
"Kami ingin menciptakan ekosistem yang kompetitif dan berkarakter tangguh. Ini bukan acara sekali jalan, tapi awal dari pembinaan jangka panjang," tutup Dani.