JAWA BARAT — Semarang tidak hanya dikenal dengan Lawang Sewu atau lumpia gangnya. Di jantung kawasan Pecinan, berdiri Klenteng Tay Kak Sie, tempat ibadah tertua dan terbesar di kota ini yang hingga kini masih mempertahankan keaslian arsitektur Tiongkok Selatan abad ke-19.
Berbeda dari klenteng lain di Semarang yang umumnya hanya memiliki lima patung altar, Tay Kak Sie justru memiliki 29 altar pemujaan Dewa-Dewi. Angka ini menjadikannya klenteng paling lengkap di wilayah tersebut, menarik peziarah dari berbagai daerah, terutama saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Lokasi klenteng di Gang Lombok No. 62 bukan tanpa perhitungan. Berdekatan dengan sungai yang dahulu menjadi jalur perdagangan vital Semarang, posisi ini dinilai memiliki nilai feng shui tinggi. Keunikan lain terlihat dari bentuk bangunan "tusuk sate" yang dipercaya masyarakat sebagai simbol penolak bala.
Ornamen atapnya menampilkan sepasang naga (Liong) yang memperebutkan mutiara alam semesta, melambangkan keadilan dan kekuatan. Sementara hiasan Burung Hong (Phoenix) merepresentasikan ketulusan dan kesetiaan. Detail ukiran kayu dengan sistem penyangga segitiga atau dou-gong mendominasi interior, gaya yang lazim digunakan pada bangunan era 1800-an.
Salah satu elemen yang paling menarik perhatian pengunjung adalah Sumur Langit, lubang terbuka di tengah bangunan yang difungsikan sebagai altar utama untuk bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di halaman depan, replika kapal Laksamana Zheng He (Cheng Ho) berdiri kokoh, mengingatkan pada sejarah maritim Tionghoa-Indonesia.
Pemerintah Kota Semarang menjadikan Tay Kak Sie sebagai embrio revitalisasi kawasan Pecinan. Program ini membenahi infrastruktur sekitar tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat, sekaligus menata kawasan agar lebih ramah peziarah dan wisatawan.
Bagi yang datang berkunjung, satu hal yang sayang dilewatkan adalah Lumpia Gang Lombok yang legendaris, lokasinya tepat di dekat pintu masuk klenteng. Kombinasi wisata religi dan kuliner ini membuat kawasan tersebut ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan.
Perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh menjadi puncak keramaian. Serangkaian upacara digelar khidmat, mulai dari pembersihan patung (rupang) hingga sembahyang menyambut tahun baru, menghadirkan pengalaman budaya yang utuh bagi generasi muda dan wisatawan mancanegara.
Keberadaan Tay Kak Sie membuktikan bahwa toleransi dan kesadaran spiritual dapat berjalan beriringan dengan dinamika kota metropolitan. Di tengah modernisasi Semarang, klenteng ini tetap menjadi penanda sejarah yang hidup, bukan sekadar bangunan tua yang terbengkalai.