JAWA BARAT — Kenaikan hampir satu poin persentase itu disebut Syakur sebagai bukti roda ekonomi daerah mulai berputar lebih kencang. Namun ia mengingatkan, ruang fiskal yang sempit masih menjadi pekerjaan rumah utama pemerintah kabupaten.
"Tantangan yang kita hadapi di masa depan semakin besar, terutama terkait dengan upaya kita bersama untuk semakin meningkatkan kemampuan daerah dalam membangun di tengah keterbatasan fiskal," ujar Syakur saat bertindak sebagai inspektur upacara di Alun-Alun Otista.
Perbaikan tidak hanya terjadi di sisi pertumbuhan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Garut kini berada di angka 70,75 poin, naik dari 69,59 poin pada tahun sebelumnya dan resmi masuk kategori tinggi.
Persentase penduduk miskin turun menjadi 9,39%, membaik dibanding posisi 9,68% di periode sebelumnya. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga berhasil ditekan ke 6,54%, turun dari 6,96%.
Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita ikut mencatat lompatan signifikan. Angkanya naik dari Rp29,1 juta menjadi Rp31,29 juta, bertambah lebih dari Rp2 juta dalam setahun—sinyal daya beli masyarakat perlahan menguat.
Di sektor kesehatan, prevalensi stunting Garut turun dari 14,2% pada 2024 menjadi 11,8% pada 2025. Capaian ini menjadi modal penting untuk perbaikan kualitas sumber daya manusia jangka panjang.
Kinerja pengendalian harga juga mendapat pengakuan. Garut meraih penghargaan peringkat pertama kategori pengendalian inflasi tingkat kabupaten se-Jawa Barat, sebuah pencapaian yang menurut Syakur tidak terlepas dari koordinasi lintas sektor.
Di balik deretan angka positif tersebut, Syakur mengakui pemerintah daerah masih bergulat dengan struktur anggaran yang terbatas. Perubahan kebijakan pengalokasian keuangan dari pemerintah pusat ke daerah turut mempersempit ruang gerak belanja.
"Maka kami mengupayakan alternatif sumber daya pendanaan dengan melakukan koordinasi dan komunikasi kepada pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat," jelasnya.
Ia menambahkan, transformasi di berbagai sektor membutuhkan keseriusan dan tanggung jawab bersama, bukan hanya dari jajaran eksekutif. "Berbagai tantangan yang dihadapi Kabupaten Garut membutuhkan keseriusan dan kesungguhan, serta tanggung jawab dari berbagai pihak, terutama kami selaku Bupati dan Wakil Bupati untuk mendorong terjadinya transformasi di berbagai sektor ke arah yang lebih baik," pungkasnya.