JAWA BARAT — Kunjungan kerja Mendagri ke NTT pekan ini menghadirkan pendekatan yang berbeda dari sekadar seremonial. Begitu mendarat di Bandara H. Hasan Aroebosman, Ende, Tito Karnavian langsung menetapkan prioritas penanganan yang harus berjalan paralel: menyelamatkan korban dan membuka akses-akses vital yang selama ini terisolasi. Instruksinya kepada jajaran pemerintah daerah tegas—tidak ada ruang untuk penundaan.
Salah satu temuan kritis di lapangan adalah sejumlah kecamatan di Manggarai Timur yang masih gelap total tanpa aliran listrik pascabencana. Alih-alih menunggu laporan berjenjang, Tito mengaku langsung menghubungi Direktur Utama PLN untuk memerintahkan tim teknis turun ke lokasi pada hari yang sama. "Saya telepon langsung Dirut PLN, timnya turun sekarang juga," ujarnya kepada awak media.
Untuk infrastruktur jalan, ia menegaskan bahwa kewenangan perbaikan sudah jelas. "Kalau jalan rusak, otomatis Menteri PU segera perbaiki. Tidak ada alasan menunda," kata Tito. Pernyataan ini menjawab kekhawatiran warga yang selama ini kesulitan mengakses bantuan karena akses darat terputus di beberapa titik.
Peninjauan langsung ini bukan sekadar prosedur administrasi. Tito menyebut hasil observasi di lapangan akan langsung dievaluasi bersama Kementerian terkait, BNPB, dan instansi lainnya untuk memastikan bantuan tepat sasaran. "Kita tahu mana yang butuh apa," tegasnya, menekankan pentingnya data aktual dibandingkan perkiraan dari ibu kota.
Pendekatan ini penting karena sering kali bantuan justru menumpuk di satu titik sementara daerah lain yang lebih terpencil justru kekurangan. Dengan pemetaan langsung dari pejabat setingkat menteri, koordinasi antar-instansi diharapkan lebih cepat dan tidak tumpang tindih.
Mendagri memaparkan bahwa penanganan akan dilakukan bertahap. Fase pertama berfokus pada kebutuhan darurat dan pemulihan layanan dasar seperti listrik, komunikasi, dan jalan. Setelah itu, barulah masuk masa transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi permanen untuk bangunan-bangunan yang rusak.
Meski target pemulihan total membutuhkan waktu, Tito meminta seluruh elemen masyarakat untuk bersabar namun tetap aktif bekerja sama. "Pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat harus bahu-membahu. Pemulihan butuh waktu, tapi langkah kita pasti dan terus berjalan," pungkasnya.
Yang perlu diperhatikan adalah janji "cepat" ini harus diukur dengan aksi nyata di lapangan. Pengalaman penanganan bencana sebelumnya sering kali terhambat di birokrasi, terutama untuk pengadaan barang dan jasa. Namun, keterlibatan langsung Mendagri dengan menghubungi direktur utama BUMN seperti PLN menunjukkan adanya jalur komando khusus yang memperpendek rantai birokrasi.
Untuk warga NTT, indikator keberhasilan yang paling mudah dilihat dalam pekan ini adalah: apakah lampu di Manggarai Timur sudah menyala dan apakah alat berat sudah terlihat mengerjakan ruas jalan yang longsor. Jika dua hal itu bergerak, maka koordinasi antarkementerian berfungsi. Jika tidak, publik berhak mempertanyakan tindak lanjut dari pernyataan tegas di atas.