131 Siswa Banjar Siap Ikut Kompetisi Sains KSNR-8 di Rumah Tahfidz ArRahman, Tekankan Kemampuan Nalar

Penulis: Mardian Syah  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:31:31 WIB
Sebanyak 131 pelajar di Kota Banjar mengikuti Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) ke-8 di Rumah Tahfidz ArRahman, Minggu (23/8/2026).

BANJAR — Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) ke-8 di Kota Banjar akan mempertemukan 131 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan di Rumah Tahfidz ArRahman pada Minggu (23/8/2026). Ajang yang digelar Klinik Pendidikan MIPA (KPM) berkolaborasi dengan Rumah Tahfidz ArRahman ini mengusung pendekatan berbeda dari lomba sains pada umumnya.

Ketua Najma Math KPM Banjar, Herri Herdiman, menegaskan bahwa KSNR lebih fokus pada penguatan kemampuan nalaria peserta. Menurutnya, siswa ditantang untuk memahami konsep, menganalisis informasi, hingga mencari solusi atas persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

"Anak-anak diajak memahami persoalan, berpikir secara logis, menganalisis informasi, kemudian mencari solusi. Jadi yang kita bangun bukan hanya kemampuan menjawab soal, tetapi juga cara berpikir anak," ujar Herri.

Bukan Sekadar Menghafal Materi

Herri menjelaskan, orientasi KSNR sengaja diarahkan untuk menjauhkan siswa dari budaya menghafal. Para peserta dituntut mampu mengaplikasikan pemahaman mereka dalam memecahkan masalah konkret, sebuah keterampilan yang dinilai krusial di era informasi saat ini.

Kompetisi ini diharapkan menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kecintaan pelajar terhadap ilmu pengetahuan sekaligus melatih mereka berpikir sistematis. Hal ini sejalan dengan upaya mencetak generasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Menyeimbangkan Iman dan Penguasaan Teknologi

Sementara itu, Ketua Yayasan Arif Saeful Rahman, Zaenal Arifin, memandang penguasaan sains dan teknologi sebagai kebutuhan mutlak bagi generasi Muslim. Ia menekankan bahwa kompetensi keagamaan saja tidak cukup untuk membekali mereka menghadapi tantangan masa depan.

"Generasi Muslim tidak cukup hanya memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita ingin melahirkan generasi yang memiliki iman dan adab, sekaligus kuat dalam ilmu pengetahuan," katanya.

Zaenal berharap pendidikan Islam mampu menghadirkan keseimbangan antara keimanan, akhlak, dan wawasan keilmuan. Menurutnya, kecintaan terhadap Al-Qur'an harus berjalan beriringan dengan penguasaan sains, teknologi, dan matematika.

"Mereka adalah generasi yang nantinya akan membangun masa depan," tegas Zaenal.

Membangun Budaya Ilmu di Lingkungan Pendidikan

Keterlibatan Rumah Tahfidz ArRahman sebagai tuan rumah penyisihan KSNR-8 dinilai sebagai langkah strategis. Hal ini menjadi simbol bahwa nilai-nilai keagamaan dan semangat keilmuan dapat tumbuh dalam satu lingkungan yang sama.

Kolaborasi antara lembaga pendidikan MIPA dan rumah tahfidz ini diharapkan mampu membudayakan tradisi berprestasi di kalangan pelajar. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa institusi berbasis keagamaan serius dalam mendorong kemajuan di bidang sains.

Reporter: Mardian Syah
Sumber: jabarekspres.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top