Suhu Laut Global Cetak Rekor 21,1 Derajat Celsius, El Nino dan Emisi Jadi Biang Kerok

Penulis: Jefri Siahaan  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 11:35:31 WIB
Suhu laut global mencapai rekor 21,1 derajat Celsius, memicu kekhawatiran ilmuwan karena El Nino belum mencapai puncaknya.

JAWA BARAT — Yang membuat ilmuwan khawatir, rekor ini pecah padahal El Nino diperkirakan belum mencapai puncaknya. Fenomena pemanasan air laut di Samudra Pasifik tropis ini biasanya baru mencapai klimaksnya pada Desember atau Januari.

El Nino dan Emisi Karbon: Kombinasi yang Mematikan

Dr Samantha Burgess, wakil direktur Copernicus, menegaskan bahwa rekor suhu ini adalah sinyal jelas bahwa lautan berada di bawah tekanan yang semakin besar. Menurutnya, El Nino memang menambah panas ke dalam sistem, tetapi ini terjadi di atas pemanasan global yang sudah berjalan puluhan tahun.

"Rekor ini adalah sinyal jelas lainnya dari lautan yang berada di bawah tekanan yang semakin besar," kata Burgess.

"El Nino menambah suhu panas ke dalam sistem, tetapi hal itu terjadi dipadukan dengan pemanasan global yang didorong oleh ulah manusia selama beberapa dekade," tambahnya.

Mengapa Suhu Laut Naik di Bulan Ini?

Pola kenaikan ini sebenarnya sudah diprediksi secara ilmiah. Rata-rata suhu laut dunia cenderung mencapai puncaknya setiap tahun pada Maret atau April, bertepatan dengan akhir musim panas di belahan Bumi selatan, bukan pada Agustus.

Namun, yang membuat situasi ini berbeda adalah intensitasnya. El Nino tahun ini diprediksi menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa abad terakhir, dan dampaknya baru akan terasa penuh dalam beberapa bulan ke depan. Artinya, suhu laut masih berpeluang naik lebih tinggi lagi.

Dampak Berantai: Dari Badai hingga Terumbu Karang

Lautan yang lebih hangat bukan sekadar angka di atas kertas. Air laut yang panas menyuplai badai dengan kelembapan dan energi ekstra, berpotensi memicu cuaca ekstrem yang lebih sering dan lebih ganas. Di wilayah pesisir, efek pendinginan dari angin laut berkurang, membuat gelombang panas daratan semakin menyengat.

Ekspansi termal air laut juga meningkatkan volume lautan, yang berkontribusi langsung pada kenaikan permukaan air laut dan risiko banjir pesisir. Habitat laut seperti terumbu karang juga jadi korban pertama, karena suhu panas yang intens dapat memicu pemutihan karang secara massal.

Bagi Indonesia yang dikelilingi lautan, data ini bukan sekadar isu lingkungan global. Ini ancaman nyata bagi ekosistem pesisir, industri perikanan, dan pola cuaca yang memengaruhi aktivitas sehari-hari, termasuk koneksi internet dan infrastruktur digital di daerah pesisir.

Reporter: Jefri Siahaan
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top