JAWA BARAT — Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan/BMKG, Djoko Sumardiono, mengatakan pelaksanaan OMC sangat bergantung pada pemantauan arah angin, kecepatan angin, hingga waktu penyemaian awan. "Secara historis, tingkat keberhasilan (OMC) di angka 30 persen karena ini musim kemarau yang langka awan," ucap Djoko dalam keterangan tertulis, Selasa (25/8).
Meski peluangnya tipis, Otorita IKN bersama BMKG, TNI AU, dan BPBD tetap menggelar operasi hujan buatan sejak Jumat (21/8) hingga Senin (24/8). Langkah ini diambil untuk menjaga pasokan air baku sekaligus memitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat tajam di Kalimantan Timur.
Tim gabungan telah menerbangkan pesawat Casa 212 A-2105 dari Lanud Dhomber, Balikpapan sebanyak lima sortie. Setiap penerbangan menyemai sekitar 800 kilogram natrium klorida (NaCl) ke titik-titik awan yang terdeteksi.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, meski terbatas. Pada Sabtu (22/8), hujan dengan curah 20 milimeter mengguyur kawasan Hulu WS Mahakam dan wilayah Kutai Kartanegara. Sementara di kawasan inti IKN, elevasi muka air pada intake Sungai Sepaku tercatat naik tipis 1 sentimeter, dari +2,04 meter menjadi +2,05 meter.
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, menegaskan penaburan garam di udara difokuskan untuk menjaga stabilitas ketersediaan air permukaan di wilayah IKN dan sekitarnya. "Saat ini, kami mengalami musim kering, dampak dari terjadinya El Nino. Dampak El Nino itu di antaranya kekeringan. Salah satu hal yang perlu kami antisipasi adalah ketersediaan air," katanya.
Kondisi ini mempertegas kerentanan pasokan air di wilayah penyangga IKN. Kebutuhan air baku untuk konstruksi dan operasional ibu kota negara baru menjadi perhatian serius di tengah kemarau panjang yang diprediksi masih berlanjut.
Penyemaian cuaca menjadi krusial mengingat eskalasi karhutla di wilayah penyangga IKN makin mengkhawatirkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat 273 titik kebakaran lahan telah menghanguskan sekitar 752 hektare area sepanjang Agustus 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar. "Pada Agustus ini totalnya sudah 273 titik kejadian kebakaran lahan. Luas lahannya sekitar 752 hektare berdasarkan data yang masuk di kami," tuturnya.
Otorita IKN dan BMKG memastikan akan terus memantau dinamika atmosfer serta potensi awan hujan. Evaluasi dan pelaksanaan OMC tahap berikutnya akan sangat bergantung pada ketersediaan awan potensial di langit Kaltim.
Tanpa pertumbuhan awan yang memadai, efektivitas teknologi modifikasi cuaca bakal tetap rendah. Namun, operasi ini tetap dianggap perlu sebagai langkah darurat menjaga ketersediaan air dan menekan risiko kebakaran di kawasan proyek strategis nasional.