Sebanyak 960 hektare lahan pertanian di 15 kecamatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terancam kekeringan akibat musim kemarau yang berlangsung dua bulan terakhir. Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Cianjur merespons dengan membangun 15 unit irigasi perpompaan yang tersebar di lima kecamatan untuk memenuhi kebutuhan air sawah dan menekan angka gagal panen.
CIANJUR — Ancaman gagal panen membayangi petani di Cianjur. Data DTPHP Cianjur mencatat 960 hektare sawah di 15 kecamatan masuk kategori rawan kekeringan, dengan tingkat keparahan bervariasi dari ringan hingga puso.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Cianjur, Dandan Hendrayana, menyebut wilayah terdampak tersebar di Karangtengah, Sukaluyu, Haurwangi, Mande, Cibeber, Kadupandak, Sukanagara, Pagelaran, Gekbrong, Cugenang, Pasirkuda, Campaka, Cilaku, Ciranjang, dan Naringgul.
Dari total lahan terancam, Kecamatan Cibeber mencatat angka tertinggi dengan 191 hektare sawah terdampak. Dandan merinci, lahan yang mengalami dampak berat terkonsentrasi di empat kecamatan, yakni Cibeber, Gekbrong, Cilaku, dan Sukaluyu.
"Tercatat lahan terancam paling tinggi di Kecamatan Cibeber seluas 191 hektar, di mana wilayah terdampak masuk dalam empat kategori, ringan, sedang, berat, dan fuso," katanya di Cianjur, Rabu.
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kemarau, DTPHP Cianjur membangun irigasi perpompaan di lima kecamatan. Sebanyak enam unit dibangun di Agrabinta, tiga unit di Cidaun, tiga unit di Kadupandak, satu unit di Cikalongkulon, dan dua unit di Cibeber.
Pembangunan infrastruktur pengairan ini ditujukan memenuhi kebutuhan air ratusan hektare lahan pertanian selama musim kemarau. Dandan menegaskan langkah ini diambil agar angka gagal panen pada musim tanam kali ini bisa ditekan.
Upaya pengendalian kekeringan sebenarnya sudah berjalan sejak awal tahun. DTPHP Cianjur telah menyalurkan 244 unit pompa air ke seluruh kecamatan di kabupaten tersebut sepanjang 2025.
"Beberapa fasilitas pengendalian kekeringan berupa pembangunan fasilitas pengairan seperti pompanisasi air permukaan juga telah dilaksanakan pada tahun 2025," ujar Dandan.
Bantuan pompa air tersebut diharapkan berfungsi optimal saat menghadapi musim kemarau panjang seperti yang terjadi tahun ini, sehingga produktivitas pertanian di Cianjur tetap terjaga.