Meta Bayar USD 18 Miliar Selesaikan Gugatan, Instagram Batasi Remaja Main 2 Jam

Penulis: Mardian Syah  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:30:03 WIB
Hakim Pengadilan Distrik California menyetujui penyelesaian gugatan Meta senilai USD 18 miliar terkait kecanduan media sosial pada remaja.

JAWA BARAT — Hakim Pengadilan Distrik Yvonne Gonzalez Rogers menyetujui penyelesaian ini sekitar seminggu setelah persidangan dimulai di California. Empat negara bagian awalnya menuntut ganti rugi hingga USD 1,4 triliun serta perubahan besar pada platform milik perusahaan. Meta sendiri tidak mengakui kesalahan dalam kesepakatan ini, namun setuju melakukan sejumlah perubahan signifikan khusus untuk pengguna remaja.

Batasan Baru untuk Remaja: 2 Jam Screentime dan Mode Malam

Kesepakatan ini membawa perubahan besar pada cara remaja menggunakan Facebook dan Instagram. Meta akan menerapkan batas waktu harian kumulatif dua jam di seluruh aplikasinya untuk pengguna berusia 13 hingga 17 tahun. Batas ini hanya bisa diubah oleh orang tua, dan aplikasi akan memberi peringatan setiap 15 menit penggunaan terus-menerus.

Selain batas waktu, Meta juga akan mengaktifkan mode malam otomatis yang memblokir akses aplikasi dari tengah malam hingga jam 6 pagi. Ada pula mode sekolah yang mengurangi jumlah notifikasi selama jam pelajaran. Jumlah likes dan reaksi pada postingan remaja juga akan disembunyikan secara otomatis, dan filter riasan ekstrem diblokir untuk anak di bawah umur.

Remaja juga akan diberi opsi untuk mematikan autoplay video dan memilih feed yang tidak didasarkan algoritma rekomendasi. Meta menyatakan akan berinvestasi pada teknologi yang lebih kuat untuk mendeteksi remaja yang memalsukan usia saat mendaftar—salah satu celah yang selama ini dikeluhkan orang tua dan pakar keamanan.

Skema Pembayaran: Ada Syarat dari YouTube dan TikTok

Dari total USD 18 miliar, sekitar USD 17 miliar dialokasikan untuk menyelesaikan gugatan yang diajukan bersama oleh 29 negara bagian. Sisanya akan menyelesaikan tuntutan antara Meta dan negara bagian serta wilayah lainnya. Meta akan membayarkan 70 persen dana penyelesaian dalam bentuk cicilan tahunan selama dekade berikutnya.

Menariknya, 30 persen sisanya hanya akan dibayarkan jika YouTube dan TikTok juga setuju melakukan pembayaran serta menerapkan perubahan serupa. Ini menjadi tekanan baru bagi platform kompetitor untuk mengikuti standar perlindungan anak yang sama.

Kekalahan Beruntun Meta di Kasus Kecanduan

Penyelesaian ini bukan kekalahan pertama Meta di ranah hukum terkait kecanduan media sosial. Awal tahun ini, Meta kalah dalam gugatan Jaksa Agung New Mexico dan diperintahkan membayar ganti rugi hampir USD 1 miliar. Ada juga gugatan yang diajukan seorang remaja berinisial K.G.M. yang berujung pada denda gabungan bagi Meta dan YouTube sebesar USD 6 juta.

Meski USD 18 miliar terbilang kecil dibanding pendapatan Meta yang mencapai USD 200 miliar tahun lalu, perubahan untuk mengurangi waktu remaja di aplikasi berpotensi berdampak signifikan pada model bisnis berbasis iklan. Di laporan pendapatan terbaru, Meta sendiri mengakui berbagai persidangan itu menimbulkan risiko kerugian.

Matthew Bergman, pengacara pendiri Social Media Victims Law Center, menyebut kesepakatan ini sebagai titik balik dalam menuntut pertanggungjawaban raksasa teknologi. Menurutnya, perusahaan merancang produk yang mereka sadari merugikan anak dan memicu krisis kesehatan mental remaja di seluruh negeri.

Jaksa Agung California, Rob Bonta, memperkirakan perubahan-perubahan ini akan mulai berlaku beberapa bulan ke depan. Meta juga setuju mengizinkan auditor independen mengevaluasi pelaksanaan kesepakatan tersebut. Sementara itu, Meta bersama raksasa media sosial lainnya masih menghadapi ratusan gugatan individu, keluarga, dan sekolah yang menuduh mereka membuat anak kecanduan—rentetan kekalahan di masa depan dapat membawa sanksi finansial tambahan.

Reporter: Mardian Syah
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top