BANDUNG — Anggota DPRD Jawa Barat dr. Encep Sugiana menyoroti kesiapan rumah sakit umum daerah menghadapi tren peningkatan kasus ISPA. Ia meminta RSUD memastikan ketersediaan obat-obatan, alat kesehatan, serta sarana dan prasarana medis tetap memadai. Menurutnya, rumah sakit yang menjadi tumpuan masyarakat tidak boleh lengah ketika jumlah pasien gangguan pernapasan bertambah.
Encep menilai lonjakan pasien ISPA bisa terjadi kapan saja mengikuti perubahan cuaca ekstrem. Karena itu, rumah sakit perlu mengantisipasi kebutuhan sejak dini, bukan menunggu pasien membludak. Ia menyebut ketersediaan obat dan peralatan medis sebagai bagian paling krusial dalam pelayanan.
"Kepada RSUD saya berharap agar terus waspadai lonjakan kasus, terutama bagi rumah sakit yang memang sekarang ini menjadi tumpuan masyarakat untuk bisa dilayani dengan sebaik-baiknya," ujar Encep.
Encep mengingatkan agar keterbatasan fasilitas tidak dijadikan alasan pasien tidak mendapatkan pelayanan. Ia meminta rumah sakit menyiapkan langkah antisipasi sejak awal, terutama bila terjadi peningkatan jumlah pasien dengan gangguan pernapasan.
"Jangan sampai ketika ada pasien datang, peralatannya tidak ada dan obat-obatan tidak ada sehingga pasien tidak terlayani dengan baik," katanya.
Pernyataan itu muncul di tengah tren peningkatan kasus ISPA yang berkaitan dengan cuaca ekstrem di Jawa Barat. ISPA sendiri mencakup sejumlah gangguan pernapasan, mulai dari batuk pilek hingga infeksi yang lebih berat dan menyerang saluran napas bawah.
RSUD memegang peran besar sebagai fasilitas kesehatan rujukan bagi warga di kabupaten dan kota. Ketika kasus ISPA meningkat, tekanan pada layanan rawat jalan maupun rawat inap biasanya ikut naik. Kondisi itu membuat kesiapan stok obat dan alat medis jadi penentu apakah pasien bisa ditangani tepat waktu.
Encep tidak menyebut angka pasti lonjakan kasus ISPA maupun daftar RSUD yang dimaksud. Ia hanya menekankan pentingnya kewaspadaan menyeluruh di seluruh rumah sakit daerah yang melayani masyarakat Jawa Barat.
Hingga pernyataan itu disampaikan, belum ada keterangan resmi dari dinas kesehatan provinsi maupun pengelola RSUD soal langkah tindak lanjut. Pengawasan terhadap kesiapan layanan rumah sakit daerah menjadi hal yang akan terus disorot seiring perkembangan cuaca ekstrem.