JAWA BARAT — Nissan menghadapi tekanan berat dari merek mobil China yang terus memperluas jaringan global, dengan X-Trail dibanderol di atas Rp 500 juta sementara Chery Tiggo 8 CSH dijual lebih murah. Kondisi ini membuat Nissan sulit bersaing di segmen SUV medium, meski sejumlah model elektrifikasi sudah diluncurkan. Di pasar seperti Meksiko, strategi melawan balik justru dilakukan dengan menyiapkan mobil rakitan China.
Persaingan pasar otomotif global memasuki fase baru ketika merek-merek China tidak lagi sekadar pemain lokal. Ekspansi jaringan penjualan mereka menyasar hampir semua kawasan, dari Asia Tenggara hingga Amerika Latin. Nissan termasuk pabrikan Jepang yang merasakan dampak paling langsung dari agresivitas ini.
Mobil-mobil dari Negeri Tirai Bambu kini dijual sebagai kendaraan ramah lingkungan dengan harga murah, tetapi kualitasnya sudah terjamin dan fiturnya lengkap. Kombinasi inilah yang menarik konsumen di banyak pasar. Penjualan mereka melesat dalam beberapa tahun terakhir, diperkuat ekspansi pasar besar-besaran.
Nissan sebenarnya tidak tinggal diam. Sejumlah model baru sudah diluncurkan dalam beberapa tahun terakhir untuk meramaikan pasar masing-masing. Namun upaya itu dinilai belum cukup untuk menahan gempuran model anyar dari kompetitor China.
Perbandingan harga di Indonesia memperlihatkan jurang yang sulit dijembatani. Nissan X-Trail dibanderol lebih dari Rp 500 jutaan, sementara Chery Tiggo 8 CSH dijual di bawah angka tersebut. Selisih ini membuat X-Trail belum bisa menyaingi model di segmennya.
Di segmen medium SUV, Honda CR-V justru dibanderol nyaris Rp 1 miliar sejak produksi lokalnya dihentikan setelah generasi terbarunya dirilis. Artinya, Nissan masih cukup unggul dibanding merek senegaranya, tetapi tetap tertinggal dari pesaing China.
Nissan mengakui mereka mulai kesulitan menyaingi kompetitor asal China. Pabrikan itu mengaku sudah berusaha keras meningkatkan penjualan. Mereka melihat merek senegaranya melawan balik dengan fokus pada ekspansi pasar global, yang bisa menekan biaya produksi.
Namun strategi itu dinilai belum cukup selama rival menawarkan lebih banyak model di pasarnya, terutama model elektrifikasi. Nissan menyadari perlunya pendekatan berbeda untuk bertahan.
Merek China terdampak penerapan tarif tinggi di negara seperti Meksiko, di mana mobil impor dikenakan bea masuk besar. Meski tarif mencapai 50 persen dan membuat harga lebih mahal dari harga aslinya, ekspansi pasar mereka tidak terhambat. Mereka terlihat cukup nekat berjualan di kawasan Amerika Utara.
Ekspansi itu bakal lebih agresif lagi kalau model sudah dirakit lokal. Inilah yang membuat pabrikan lain semakin tertinggal jika tidak bisa melakukan hal serupa.
Sistem pasokan dan struktur biaya yang belum bisa menyamai merek China menjadi akar kesulitan bersaing di pasar roda empat. Namun Nissan tidak menyerah. Mereka akan melawan balik merek China di Meksiko dengan menyiapkan mobil rakitan dari China untuk dijual di sana.
Langkah ini mungkin terdengar aneh, tetapi menjadi strategi menjegal kompetitor di pasar Meksiko. Nissan juga akan mencari cara lain untuk melawan balik di pasar tersebut.
Di pasar global, Nissan sepertinya masih fokus menghadirkan model baru lainnya, baik elektrifikasi maupun konvensional, termasuk SUV dan jenis mobil lain. Semua ini dilakukan agar mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan dari kompetitor yang terus menghadirkan model unggulan.