Talkshow bertajuk “Pola Kopi Agroforestri di Areal Perhutanan Sosial” menjadi salah satu agenda pendukung festival. Dalam sesi ini, masyarakat desa hutan Garut memaparkan bagaimana mereka mengelola kawasan hutan secara lestari sambil menghasilkan kopi berkualitas tinggi.
Kopi Garut dikenal memiliki karakter rasa khas karena ditanam di dataran tinggi dengan sistem agroforestri. Metode ini memadukan tanaman kehutanan dengan komoditas bernilai ekonomi seperti kopi, alpukat, nangka, dan lamtoro dalam satu hamparan lahan. Sistem ini tidak hanya menjaga tutupan hutan dan keseimbangan ekosistem, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan bagi warga.
14.000 Hektare Hutan Dikelola 54 Kelompok Perhutanan Sosial
Pemerintah Kabupaten Garut telah memberikan akses kelola kawasan hutan seluas sekitar 14.000 hektare kepada 54 Kelompok Perhutanan Sosial (KPS). Pengelolaan dilakukan melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa, dan Kemitraan Kehutanan (KK).
Dari kawasan-kawasan inilah lahir berbagai produk hasil hutan, termasuk kopi agroforestri yang mulai dikenal luas. Para peserta festival, termasuk wisatawan mancanegara, dapat melihat langsung proses produksi kopi dari kawasan hutan yang dikelola secara berkelanjutan.
Festival Perdana yang Satukan Seni, Budaya, dan Ekonomi Desa
Festival Layang-Layang Internasional Garut 2026 tercatat sebagai ajang internasional pertama yang digelar di Kabupaten Garut. Peserta datang dari Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, hingga negara Eropa seperti Swiss, Swedia, Prancis, Italia, dan Belgia. Indonesia sendiri diwakili pegiat layang-layang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan, dan Bali.
Selain pertunjukan seni layang-layang kelas dunia, festival ini juga menjadi ruang pertemuan komunitas domestik dan mancanegara. Kegiatan tersebut dimeriahkan pentas seni budaya, pertunjukan musik, bazar UMKM, kuliner khas daerah, serta pameran produk unggulan lokal. Produk kopi agroforestri Garut menjadi salah satu ikon yang diperkenalkan kepada tamu dari dalam dan luar negeri.
Melalui perpaduan olahraga rekreasi, budaya, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat desa hutan, festival ini diharapkan menjadi momentum penting memperkenalkan wajah baru Garut sebagai destinasi wisata berbasis alam dan pengelolaan hutan lestari.