JAWA BARAT — Pernyataan Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden, Ulta Levenia Nababan, soal kemungkinan keterkaitan High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) dengan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia ramai diperbincangkan. Spekulasi itu muncul setelah enam gunung api, termasuk Gunung Anak Krakatau, mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan.
Ulta bahkan menghubungkan fenomena tersebut dengan pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok. Lewat akun Instagram miliknya, ia menulis: "Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?"
Pertanyaannya kemudian sederhana: benarkah teknologi buatan manusia mampu memicu letusan gunung api?
Apa Sebenarnya HAARP dan di Mana Lokasinya
HAARP bukan perangkat yang dirancang untuk mengendalikan bencana. Fasilitas ini berada di Gakona, Alaska, Amerika Serikat, dan berfungsi sebagai laboratorium penelitian lapisan ionosfer Bumi.
Pengelolaannya kini berada di bawah University of Alaska Fairbanks (UAF). Sebelumnya, fasilitas ini dioperasikan Angkatan Udara Amerika Serikat sebelum resmi dialihkan kepada UAF pada 11 Agustus 2015.
HAARP memakai pemancar radio frekuensi tinggi atau high frequency (HF) untuk memberikan energi pada wilayah terbatas di ionosfer. Peneliti lalu mengamati respons plasma di area tersebut guna memahami berbagai proses fisika di lapisan atmosfer atas.
Ionosfer sendiri berada jauh di atas permukaan Bumi dan berperan dalam berbagai fenomena yang berkaitan dengan gelombang radio. Karena karakternya bisa memengaruhi komunikasi radio dan sistem navigasi, penelitian lapisan ini bermanfaat untuk memahami propagasi sinyal dan lingkungan ruang dekat Bumi.
Keberadaan ratusan antena dan kemampuan HAARP memancarkan gelombang radio berdaya tinggi membuat fasilitas ini lama menjadi sasaran teori konspirasi. HAARP kerap dituding dapat mengendalikan cuaca, memengaruhi pikiran manusia, hingga memicu gempa bumi dan letusan gunung api.
Mengapa HAARP Tidak Bisa Memicu Erupsi Vulkanik
Perbedaan fungsi HAARP dengan proses vulkanik menjadi kunci untuk menguji klaim tersebut. HAARP bekerja di ionosfer, sedangkan aktivitas erupsi berlangsung akibat proses geologi jauh di bawah permukaan Bumi.
HAARP menggunakan gelombang radio frekuensi tinggi untuk memberikan energi pada wilayah terbatas di ionosfer yang berada sekitar 60 hingga lebih dari 500 kilometer di atas permukaan Bumi. Efek yang dihasilkan berupa perubahan kecil dan sementara pada plasma di lapisan atmosfer tersebut.
Kondisi itu berbeda dengan erupsi gunung api yang berkaitan dengan pergerakan magma, tekanan gas, serta proses tektonik di bawah permukaan.
Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harijoko, menuturkan bahwa secara alami pengisian magma ke dalam dapur magma terjadi terus-menerus hingga tekanannya mampu membobol batuan penutup di permukaan.
"Ketika tekanan di magma chamber itu lebih besar daripada tekanan yang menutupi, maka dia akan bisa erupsi," kata Agung.
Energi HAARP tidak bekerja pada ruang fisik yang sama dengan sistem magma dan batuan yang mengendalikan aktivitas gunung api. Perbedaan itu juga terlihat dari skala energi yang digunakan.
Pemancar utama HAARP memiliki daya pancar sekitar 3,6 megawatt, sementara proses alamiah seperti badai geomagnetik Matahari dapat melibatkan energi jauh lebih besar.
Situs resmi HAARP bahkan menjelaskan bahwa efek pemanasan ionosfer yang dihasilkan fasilitas tersebut bersifat lokal dan cepat menghilang. Efeknya dapat bertahan kurang dari satu detik hingga sekitar 10 menit, bergantung pada ketinggian wilayah ionosfer yang dipengaruhi.
Mengapa Teori Konspirasi Bencana Mudah Percaya Diri
Psikolog Andhita menjelaskan teori konspirasi bencana mudah populer karena masyarakat mencari jawaban sederhana saat tidak pasti. Ketika enam gunung api erupsi dalam waktu berdekatan, penjelasan ilmiah yang rumit sering kalah cepat dibanding narasi tunggal yang terasa "masuk akal".
Kemunculan erupsi beberapa gunung api dalam periode berdekatan tidak cukup untuk membuktikan keterkaitan dengan HAARP. Sebab, aktivitas vulkanik Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang secara alami memiliki frekuensi erupsi tinggi.
Bagi traveler yang berencana mendaki atau berkunjung ke kawasan gunung api, informasi status resmi dari PVMBG dan Badan Geologi tetap menjadi rujukan utama. Jangan berpijak pada spekulasi yang tidak berbasis data kegunungapian.