Lewat Program 'Gaslah', Pemkot Bandung Tempatkan Petugas Khusus Pemilah Sampah di Tiap RW.

Penulis: Rian Murdani  •  Senin, 23 Februari 2026 | 21:40:04 WIB
Pemkot Bandung memperkuat sistem pengolahan sampah lokal untuk mengurangi pengiriman ke TPA Sarimukti.

KOTA BANDUNG – Menghadapi kebijakan pembatasan pengiriman limbah ke TPA Sarimukti, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengambil langkah proaktif dengan memperkuat sistem pengolahan sampah mandiri. Kini, Kota Kembang ditargetkan mampu mengelola 500 ton sampah per hari secara lokal untuk menjaga kebersihan kota tetap terjaga.

Langkah ini diambil menyusul penetapan kuota pengiriman ke TPA Sarimukti yang kini dibatasi hanya sebesar 981 ton per hari. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu hingga hilir di wilayah sendiri.

"Sampah di Kota Bandung berasal dari aktivitas kita sendiri, maka kitalah yang memegang tanggung jawab penuh untuk menanganinya," tegas Farhan pada Senin (23/2/2026).

Menutup Celah Kapasitas Pengolahan

Dengan total produksi sampah harian mencapai 1.500 ton, selisih 500 ton yang tidak terkirim ke TPA harus segera diatasi di dalam kota. Saat ini, fasilitas lokal baru mampu menyerap sekitar 300 ton per hari.

Pemkot Bandung optimistis mampu menutup kekurangan kapasitas sebesar 200 ton tersebut pada akhir semester pertama tahun 2026. Strategi yang diusung tidak hanya mengandalkan satu jenis teknologi, melainkan kombinasi berbagai metode pengolahan mengingat karakteristik sampah yang beragam, terutama sampah organik sisa makanan.

Program "Gaslah": Edukasi Hingga Tingkat RW

Sebagai ujung tombak di lapangan, Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Berikut adalah poin utama program tersebut:

Penempatan Personel: Satu petugas khusus disiagakan di setiap RW.

Edukasi Langsung: Petugas mendatangi rumah warga untuk mengajarkan cara memilah sampah dari sumbernya.

Rencana Ekspansi: Ke depannya, jangkauan program ini akan diperluas hingga ke tingkat RT untuk memastikan sistem pengelolaan berbasis sumber berjalan masif.

Reporter: Rian Murdani
Back to top